Dinas Pengembangan Kawasan Permukiman dan Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Lampung melalui PPK Perencanaan dan Pengendalian Program Infrastruktur Permukiman Provinsi Lampung beserta Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan Dinas terkait lainnya mengadakan Koordinasi Lintas Sektor Pengawasan Kualitas Air Minum dan Sanitasi, di Bandar Lampung, Rabu (19/4/2017).

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana menjelaskan, membuang sampah pada tempatnya dan hematlah dalam penggunaan air, merupakan kata-kata yang klise tapi hanya itulah kata kunci dari penanggulangan kelangkaan air bersih yang bisa dilakukan oleh masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan kelangkaan air bersih, diantaranya pencemaran sungai dengan sampah serta limbah, penggundulan hutan, populasi penduduk yang semakin meningkat dan lahan resapan air yang semakin sempit. 

“Tujuh puluh persen tubuh manusia terdiri dari air karena itu sangat penting bagi kita untuk meminum air dan tentunya dengan kualitas yang baik, air yang berkualitas baik adalah air yang bersumber dari air tanah, air permukaan dan mata air,” ungkap Reihana.  

Senada dengan hal tersebut, PPK Randal Provinsi Lampung Feri Iskandar mengatakan, menuju Universal Access 2019 sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)2005-2025, pembangunan penyediaan air minum dan sanitasi diharapkan untuk mewujudkan kebutuhan dasar masyarakat. “Untuk mencapai Universal Access 2019 yakni 100% akses air minum dan sanitasi, tidak hanya diperlukan kerjasama antara pemerintah saja namun diperlukan keikutsertaan dari masyarakat. Hal ini menjadi fokus stakeholder dalam mewujudkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM),”tegas Feri. 

Lanjut Fery, pendekatan STBM selama ini dilaksanakan di daerah pedesaan. Dengan pendekatan STBM, masyarakat mau berubah bahkan membuat fasilitas sanitasinya dengan biayanya sendiri. Penyadaran untuk melakukan perubahan perilaku untuk hidup bersih dan sehat juga sangat dibutuhkan di kawasan urban atau perkotaan. “Apabila masyarakat dipedesaan saja bisa dirubah pola pikirnya dengan STBM, bukan tidak mungkin masyarakat perkotaan bisa dipicu dengan cara yang sama,” tutup Feri. (Methariska Sylvia – Randal Lampung/ari)