Menyambut Hari Air Dunia ke XXV tahun 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Provinsi Papua Barat bekerjasama dengan Ditjen Cipta Karya menggelar seminar sehari di Aula kampus Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Kamis (16/3/2017).

Kegiatan seminar tersebut memiliki tema air dan air limbah. Seminar dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan, Niko U Tike. Dalam sambutannya Niko mengatakan, bahwa bumi dan seisinya merupakan anugerah Tuhan yang harus dijaga bersama-sama sebagai generasi penerus bangsa. 

“Kita harus ikut menjaga sumber daya air yang kita miliki saat ini,” kata Niko mengimbau agar seluruh masyarakat Papua Barat ikut menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. 

Sementara, Kepala Balai Wilayah Sungai Provinsi Papua Barat, Elroy Koyari mengatakan, sebagai provinsi konservasi Papua Barat memiliki sumber daya air dan sungai-sungai yang begitu banyak. Hanya saja, sampai saat ini belum mencukupi kebutuhan air masyarakat secara optimal, apalagi kualitasnya. 

Untuk dapat mengalirkan air bersih, kata Elroy bukan hanya tugas BWS, namun masih ada 3 instansi yang berwenang yaitu Ditjen Cipta Karya, baik itu Satker Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (PSPAM) dan PSPLP. Keduanya memiliki kewenangan masing-masing dalam penyediaan air minum. 

Lebih lanjut Elroy menjelaskan, di Papua Barat sudah terdapat beberapa daerah yang membangun sarana untuk air baku, hanya saja masih ada daerah yang belum difungsikan. 

Selain itu, Kepala PSPAM Provinsi Papua Barat, Grabriel Pandin yang dikonfirmasi mengungkapkan, untuk air baku mutu kuncinya harus menguasai dan menyusun one river management Papua Barat, khususnya dalam pemanfaatan air baku karena masih harus disesuaikan dengan baku mutu limbah cair. 

“Namun, apakah baku mutu limbah cair sudah ada SK Gubernur dan apakah setiap air permukaan sudah pernah dilakukan uji laboratorium kualitas air sungai dan besaran debit. Ini yang butuh solusi untuk dilakukan perencanaan yang terintegrasi dalam one river managemen yang melibatkan pusat dan daerah serta swasta dan masyarakat,” pungkasnya. 

Seminar sehari dalam rangka memperingati Hari Air sedunia ke XXV ini melibatkan dari Dinas Kehutanan Papua Barat, BP DAS Remu Ransiki dan Bapedalda serta mahasiswa. Selain seminar juga akan dilaksanakan pembersihan sampah, penanaman pohon dan pencanangan gerakan moral bersih kali Remu yang akan melibatkan Ditjen Cipta Karya. (Lilis-Randal Papua Barat/ari)