Siapa yang tak kenal dengan Bali? Di dunia wisata internasional, provinsi yang diberi julukan Pulau Dewata ini lebih terkenal dari Indonesia. Keindahan alam dengan bentangan pantai dan pegunungan, didukung oleh keramahan penduduk membuat Bali tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, cenderung menjadi kawasan wisata dengan kepadatan tinggi. Pengaturan yang tidak tepat dapat dapat mendorong kepadatan di Bali akan mengalahkan daya tariknya.
Siapa yang tak kenal dengan Bali? Di dunia wisata internasional, provinsi yang diberi julukan Pulau Dewata ini lebih terkenal dari Indonesia. Keindahan alam dengan bentangan pantai dan pegunungan, didukung oleh keramahan penduduk membuat Bali tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan, cenderung menjadi kawasan wisata dengan kepadatan tinggi. Pengaturan yang tidak tepat dapat dapat mendorong kepadatan di Bali akan mengalahkan daya tariknya.
 
Sebelum Bali kehilangan daya tariknya, Direktorat Jenderal Cipta Karya menyusun instrument perencanaan dan penyiapan pelaksanaan program pembangunan infrastruktur permukiman yang terpadu, bernama Rencana Pembangunan Infrastruktur Permukiman (RPIP) Kawasan Nusa Penida. Kenapa Nusa Penida? Kepadatan wisatawan di daerah sekitar Sanur dan Kuta harus diurai dengan menyediakan alternatif kawasan wisata lain. Nusa penida dengan karakteristik yang sama dengan Kuta dan Sanur, tetapi memiliki potensi minapolitan dan wisata bahari, dapat menjadi alternatif kawasan wisata tersebut. Kita bisa menyebutnya dengan Bali Baru. Bahkan, konektivitas di Nusa Penida, apabila dikembangkan dengan baik, bisa menjangkau Pulau Lombok yang juga salah satu destinasi wisata pantai di Indonesia.
 
Koordinasi awal penyusunan RPIP Kawasan Nusa Penida, diselenggarakan pada 28 Juli 2020 dengan mengundang multi stakeholder.  Pada koordinasi awal dijelaskan bahwa Nusa Penida menjadi kawasan konservasi perairan dengan ekosistem berupa mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Selain itu, kawasan yang menurut RTRW Kabupaten Klungkung masuk dalam pusat pelayanan lingkungan ini, memiliki resiko bencana banjir dan longsor di bagian tengah, serta tsunami di bagian pesisir utara.
 
Dengan statusnya sebagai kawasan konservasi yang rawan bencana, maka pengembangan Kawasan Nusa Penida diusulkan  untuk menguatkan keterhubungan/konektivitas antara Bali dan Nusa Tenggara Barat melalui pembangunan jalan serta Pelabuhan. Selain itu, pemenuhan layanan infrastruktur dasar permukiman seperti air minum, sanitasi, ruang terbuka serta pengurangan kawasan kumuh juga harus dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya degradasi kawasan permukiman dan masyarakat sekitar tetap mendapatkan manfaat dari peningkatan kualitas Kawasan Nusa Penida. (pkp)