Daerah pegunungan selalu menarik untuk dikunjungi. Kesulitan untuk mencapai puncaknya, terbayar dengan keindahan alam yang dilihat, terlebih menjelang matahari terbit. Pegunungan Bromo dan Semeru, merupakan tempat wisata populer. Di waktu liburan, dapat dijumpai lautan manusia yang menjelajah untuk menghilangkan penat dengan memandangi keindahan jajaran pegunungan tersebut. Di hari-hari biasa, kedua tempat ini menjadi surga bagi pecinta alam untuk menyalurkan kerinduan terhadap keindahan ciptaan Sang Maha Kuasa. Tapi sebagaimana pegunungan, Bromo dan Semeru merupakan ring of fire, memiliki resiko kebencanaan vulkanik, tektonik, longsor, dan kebakaran hutan.

Daerah pegunungan selalu menarik untuk dikunjungi. Kesulitan untuk mencapai puncaknya, terbayar dengan keindahan alam yang dilihat, terlebih menjelang matahari terbit. Pegunungan Bromo dan Semeru, merupakan tempat wisata populer. Di waktu liburan, dapat dijumpai lautan manusia yang menjelajah untuk menghilangkan penat dengan memandangi keindahan jajaran pegunungan tersebut. Di hari-hari biasa, kedua tempat ini menjadi surga bagi pecinta alam untuk menyalurkan kerinduan terhadap keindahan ciptaan Sang Maha Kuasa. Tapi sebagaimana pegunungan, Bromo dan Semeru merupakan ring of fire, memiliki resiko kebencanaan vulkanik, tektonik, longsor, dan kebakaran hutan.  

 
Pemerintah Indonesia menetapkan Pegunungan Bromo dan Semeru menjadi salah satu kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN), dengan penyebutan Bromo-Tengger-Semeru 18 (BTS). Menjadi KSPN, maka BTS harus siap untuk dikembangkan infrastrukturnya sehingga dapat menarik jumlah wisatawan yang lebih banyak dan menjadi salah satu sumber pendapatan bagi pemerintah dan masyarakat. Dan, industri pariwisata menjadi salah satu andalan untuk memulihkan ekonomi pasca pandemic global, Corona Virus Disease 2019 (Covid 19).
 
Direktorat Jenderal Cipta Karya mencoba menginisiasi pengembangan KSPN BTS dengan menyusun instrumen perencanaan dan penyiapan pelaksanaan program pembangunan infrastruktur permukiman yang terpadu, bernama Rencana Pembangunan Infrastruktur Permukiman (RPIP) Kawasan BTS. RPIP akan disusun untuk membantu mengembangkan BTS menjadi destinasi wisata premium dan berketahanan bencana.
 
BTS sebagai destinasi wisata didukung oleh daya tarik alam dengan sebaran taman wisata alam, budaya permukiman adat Suku Tengger serta wisata hasil buatan manusia berupa perkebunan, pertanian, peternakan. Diperlukan keterpaduan infrastruktur untuk menata BTS menjadi kawasan wisata yang tahan bencana, dengan infrastruktur berkualitas baik dengan tetap memberikan layanan infrastruktur dasar bagi masyarakat di permukiman sekitar BTS.
 
Koordinasi awal penyusunan RPIP Kawasan BTS telah diselenggarakan pada 28 Juli 2020 dengan melibatkan multi stakeholder. Diharapkan RPIP akan dapat meningkatkan aksesibiltas dan amenitas Kawasan BTS dan menjadikannya kawasan wisata premium yang aman dan berkelanjutan (pkp).