Kota Pontianak terus dipercantik lewat penataan tepian Sungai Kapuas demi mengubah wajah kota. Dengan memaksimalkan konsep water front city, Kota Pontianak terlihat elok dengan selesainya pembangunan sarana yang menyusuri tepian sungai.

Program penataan kampung nelayan menjadi salah satu prioritas Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada periode 2016-2019 dengan melakukan penataan kawasan permukiman nelayan dan tepi air di 11 lokasi. Program ini bertujuan untuk mengembangkan permukiman pesisir berbasis ekonomi perikanan di berbagai lokasi di Indonesia.

Di kawasan Kampung Beting sendiri, memiliki bangunan cagar budaya yang erat dengan sejarah perkembangan Kota Pontianak, yakni Masjid Jami dan Istana Kadriah Kesultanan Pontianak. Kawasan ini termasuk salah satu kawasan kumuh yang kemudian dilakukan penataan secara bertahap sejak tahun 2017-2018 dengan anggaran Rp79,2 miliar. Penataan di Kampung Beting dilakukan terintegrasi dengan penataan tepian Sungai Kapuas di Tambelan Sampit.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Cipta Karya Danis H. Sumadilaga dalam kunjungannya bersama Menteri PUPR Basuki Hadimulyono didampingi Gubernur Kalbar, Sutarmidji WaliKota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono serta Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Pontianak Deva Kurniawan Rahmadi, Kamis(06/09/2019) di Pontianak.

“Sebelumnya pada tahun anggaran 2016-2017, Kementerian PUPR telah menyelesaikan penataan tepian Sungai Kapuas di Tambelan Sampit dengan total anggaran Rp30,45 miliar. Untuk selanjutnya, saat ini juga tengah diselesaikan restorasi Masjid Beting dan kawasan sekitar dengan total anggaran Rp91,1 miliar dengan progres konstruksi 74% dan ditargetkan selesai November 2019,” tutur Danis.

Sedangkan, untuk penataan permukiman BML, Kementerian PUPR dengan total anggaran tahun jamak 2017-2018 sebesar Rp49,9 miliar telah meningkatkan kondisi lingkungan kawasan tersebut. Pekerjaannya mencakup jalur pejalan kaki sepanjang 836 meter, pembangunan mushala, pintu gerbang, pos keamanan, pos polisi, pos babinsa, tandon air 3 pasang, CCTV, dan lampu penerangan.

“Konsepnya kita mengubah sungai ini. Awalnya halaman belakang kita ubah menjadi halaman depan. Dengan membangun pedestrian untuk pejalan kaki dan taman sepanjang kawasan sungai ini,” ungkap Danis.

Lanjut Danis, target utama adalah kawasan ini menjadi pusat rekreasi dan ekonomi.

“Kita harapkan ini menjadi model kawasan yang modern sebagai penataan kawasan sungai. Sehingga ekonomi masyarakat menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan sektor pariwisata juga,” harap Danis. (firira/BPPW KALBAR)