Balai Teknik Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya menerima kunjungan Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELS), Rabu (06/03/2019). Kunjungan ini dilakukan dalam rangkaian kegiatan Seminar of Water Supply System on Disaster Management, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerja sama dengan Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) dan JICWELS.

Kepala Balai Teknik Air Minum Yuni Erni Aguslin menyambut baik kunjungan tim dari JICWELS. Dijelaskannya, Balai Teknik Air Minum didirikan pada tahun 1990 dengan bantuan Pemerintah Jepang melalui program kerja sama teknis Pemerintah Indonesia dan Jepang. Pada kesempatan ini, juga dipaparkan mengenai program kegiatan dan pelayanan yang dilaksanakan oleh Balai Teknik Air Minum serta fasilitas dan peralatan pendukung pelatihan yang terdapat di Balai Teknik Air Minum.

Berdasarkan penjelasan yang disampaikan Kepala Balai Teknik Air Minum, permasalahan utama dalam pelaksanaan bimbingan teknis adalah fasilitas workshop atau bengkel kerja yang digunakan untuk praktek, sudah tidak up to date mengingat hampir seluruh peralatan tersebut merupakan hibah dari Pemerintah Jepang 20 tahun yang lalu.

Sementara, Kasubdit Standardisasi dan Kelembagaan, Direktorat Pengembangan SPAM, Ditjen Cipta Karya Ade Syaiful menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas Balai Teknik Air Minum dirasa mendesak, sehingga diharapkan ada prosedur lain untuk mempermudah hal tersebut, misalnya berupa hibah atau kerja sama corporate social responsibility (CSR).

"Upgrading balai ini sangat penting, karena permasalahannya adalah teknologi yang belum terbarukan. Padahal keberadaan balai merupakan ujung tombak, sebagai center of excellence dalam menunjang pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)," tegas Ade.

Menanggapi hal tersebut, Direktur JICWELS sekaligus ketua tim kunjungan Mr. Sugawara Shigeru mengungkapkan, terdapat alternatif dukungan untuk peningkatan kapasitas balai sebagaimana disebutkan tadi, yaitu berupa hibah fasilitas pengolahan air minum. JICWELS memiliki beberapa peralatan pengolahan air minum yang dikembangkan di Indonesia, dan oleh sebab itu beberapa peralatan tersebut dapat diberikan kepada Balai Teknik Air Minum.

Untuk mengakomodir hal ini, maka perlu disiapkan nota kesepahaman atau perjanjian kerja sama sebagai dasar pemberian bantuan peralatan dimaksud. Sebagai rencana tindak lanjut, Balai Teknik Air Minum akan mempersiapkan kondisi di lapangan, mengingat peralatan yang akan dihibahkan memerlukan lahan yang cukup dan pekerjaan konstruksi pendukung lainnya.

Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke beberapa fasilitas yang tersedia di Balai Teknik Air Minum, antara lain workshop air bersih, workshop mekanikal dan elektrikal laboratorium, dan instalasi pengolahan air minum. (Ard-BTAM/ari)