TVC City Changer NEW!                         
 
@ditjenck

Dapatkan informasi kegiatan dan aktivitas terbaru dari Ditjen Cipta Karya melalui twitter anda.

Pemerintah Soroti Keberlanjutan Hasil PAMSIMAS

21/07/2010 Share Facebook Twitter
Setelah setahun penyiapan dan mulai dua tahun terakhir dilaksanakan, Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) mulai mendapatkan sorotan dari aspek keberlanjutan manfaat prasarana dan sarana air minum dan sanitasi yang dihasilkan. Apalagi program ini akan berakhir pada 2011 sesuai yang dicanangkan Bank Dunia sebagai pendonor.

Tak kurang, Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Budi Yuwono menegaskan hal itu saat meninjau lokasi PAMSIMAS di Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Muaran Enim Sumatera Selatan, Senin (19/7). Buah karya bersama dalam PAMSIMAS yang diperlihatkan masyarakat kepada rombongan dari Kementerian Pekerjaan Umum itu memang akan sangat disayangkan jika tidak dipikirkan keberlanjutnnya.

Kunci keberhasilan PAMSIMAS ini adalah bagaimana kontribusi masyarakat dalam mengelola infrastruktur ini. Ada banyak hal, salah satunya kepedulian warga untuk menyediakan dana operasional melalui penetapan tarif atau retribusi yang adil dan wajar untuk mengantisipasi kerusakan mesin pompa, bahkan bagaimana jika cadangan air semakin berkurang. Dalam hal ini Pemda harus turun tangan untuk membantu, jangan hanya jadi penonton diam. ” terang Budi Yuwono.

Seperti tekad yang ditunjukkan warga Ulak Segeulung, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Lewat Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Karya Bersama yang dipimpin Awaluddin, mereka berhasil membangun 6 unit sumur bor yang dielngkapi menara penampung air, 1 unit MCK Umum, dan 8 unit sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di Sekolah Dasar Ulak Segelung. Mereka menerima manfaat ini sejak tahun 2009 dengan bantuan langsung sebesar Rp 250 juta dari pemerintah pusat dan APBD, serta swadaya masyarakat baik berupa dana (in cash) maupun material dan tenaga (in kind).

“Kami menetapkan tarif kepada kelompok masyarakat pemakai Rp 4.500 per bulan. Jika dirata-ratakan sebulan memerlukan Rp 120 ribu untuk operasional mesin per unitnya, maka sisa per bulannya didapat sebesar Rp 20 ribu. Sisanya akan dikumpulkan jika sewaktu-waktu ada kerusakan mesin,” jelas Awaludin kepada rombongan.

Lain di Ulak Segelung, lain pula di Desa Petanang Kecamatan Lembat Kabupaten Muara Enim. Dengan dana kurang lebih sama, LKM Bersama membangun 11 unit sumur bor plus menara penampung air. Selain dipakai masyarakat di tempat, LKM juga menyalurkannya sepanjang 1.000 meter ke rumah warga. Dari 11 penampungan, cuma 2 unit saja yang belum disalurkan ke sambungan rumah.

Bahkan di desa ini pemeliharannya lebih efisien, yakni Rp 105 ribu per unit per bulan. Sedangkan tarif yang dikenakan masyarakat pemakai sebesar Rp 5000 hingga Rp 10.000. Pompa mampu mengaliri air ke bak penampung hingga penuh selama enam jam per hari. Dengan kemampuan ini, 80% dari sekitar 520 KK sudah menikmati air minum dari PAMSIMAS ini. (bcr)

Berita Terkait Komentar