Foto: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan rencana pembangunan infrastruktur air minum berupa 10 juta sambingan rumah tangga air bersih dalam lima tahun ke depan.

Tahun 2030, 100 Persen Rakyat Indonesia Terlayani Air Bersih

Jakarta -- Pemerintah Indonesia menargetkan dalam lima tahun ke depan hingga 2024, akan membangun 10 juta sambungan rumah (SR) air bersih di seluruh wiayah Indonesia, han hal itu merupakan bagian dari target 100 persen rakyat Indonesia terlayani air bersih pada tahun 2030.

Hal itu dikemukakan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono seusai mengikuti rapat yang dipimpin Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (8/4). Hadir pada rapat itu antara lain Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dan Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo.

Menurut Basuki, rapat yang dipimpin Jusuf Kalla tersebut di antaranya adalah membahas program penyediaan 10 Juta SR dalam lima tahun ke depan.

“Itu menjadi bagian dari target Pemerintah Indonesia pada tahun 2030, yaitu 100 persen rakyat Indonesia terlayani air bersih,” katanya.

Dikemukakan, pembangunan 10 juta sambungan rumah tangga air bersih meruoakan bagian dari investasi jangka panjang, dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi rumah tangga terhadap air bersih. Sebab, konsumsi rumah tangga untuk air bersih dinilai masih tinggi saat ini.

"Air PDAM satu meter kubik itu sangat murah sekitar Rp 5.000, sedangkan air minum dalam kemasan, bisa mencapai Rp 6 juta per meter kubik. Hal ini yang menjadi pemikiran Pemerintah,” kata Menteri PUPR.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur untuk pemenuhan kebutuhan air minum layak bagi rumah tangga tersebut bukan merupakan kebutuhan belanja negara, melainkan investasi yang dilakukan oleh Pemerintah.

"Jadi dana yang dikeluarkan untuk pembangunan infrastruktur air minum bukan untuk belanja atau subsidi, tapi untuk investasi, karena air minum yang dihasilkan itu akan dikenakan tariff, dan masyarakat harus membayar," katanya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan, pembangunan infrastruktur air minum berupa 10 juta sambingan rumah tangga air bersih tersebut menjadi bagian dari rencana rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024. Anggaran yang dibutuhkan, sekitar Rp 100 triliun.

"Pemerintah akan menghitung lagi, namun yang pasti memang jumlah kalau kita hitung sampai 2024 kemungkinan pasti di atas Rp 100 triliun untuk pembangunan infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum dan pipa sambungan rumah tangga," kata Bambang.

Ia menambahkan, kondisi masih minimnya akses air bersih atau air minum layak yang hanya sekitar 68-70 persen saat ini, mendasari pembangunan 10 juta sambungan rumah tangga air bersih tersebut.

Pemerintah juga akan segera memulai memperbaiki sumber air baku seperti bendungan-bendungan yang tersebar di seluruh Indonesia, perbaikan sungai-sungai tercemar, perbaikan maupun membangun baru sistem penyediaan air minum (SPAM). Selain dari pemerintah melalui Kementerian PUPR, pembangunan SPAM juga akan melibatkan pihak swasta.

Menurutnya, sudah dibangun beberapa SPAM besar yang menyertakan pastisipasi pihak swasta melalui kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), misalnya SPAM Umbulan, SPAM Lampung, SPAM di Semarang, maupun SPAM Pekan baru.

Ia juga mengatakan bahwa Pemerintah akan memperbaiki sistem tarif air bersih yang masih berbeda tiap daerah, sekaligus memperbaiki kebocoran air bersih, karena tingkat kebocoran air bersih sudah mencapai 33 persen.

Masalah air bersih, menurutnya, menjadi persoalan semua daerah, hal itu salah satunya karena terbatasnya anggaran APBD. Rencana Pemerintah Pusat menginvestasikan anggaran senilai Rp 100 triliun itu untuk pembangunan infrastruktur demi mewujudkan ketahanan dan penyediaan air bersih untuk seluruh masyarakat.

"Saat ini anggaran daerah untuk air bersih itu hanya 0,3 persen dari APBD mereka. DAK yang mereka ajukan mengenai air juga sangat kecil. Ini menjadi masalah semua daerah, kebanyakan belum mempunyai akses air bersih yang layak, dan itu karena air bakunya tidak tersedia atau pipanya yang tidak sampai,” katanya. (pspam/yss)

Print Berita