Foto: Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun, M.Kes meresmikan sarana air minum perdesaan yang dibangun melalui program Pamsimas tahun anggaran 2018. Peresmian sarana air minum yang dibangun di 10 desa di Sleman itu dipusatkan di Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Sarana Air Minum dan Sanitasi Perdesaan di Sleman Diresmikan

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Dra Hj Sri Muslimatun, M.Kes meresmikan sarana air minum perdesaan yang dibangun melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tahun anggaran 2018. Peresmian sarana air minum yang dibangun di 10 desa di Sleman itu dipusatkan di Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, minggu lalu.

Peresmian sarana air minum tersebut berlangsung meriah. Selain ada pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti, juga ada sambutan khas tradisional berupa pasukan “bergodo” Desa Candibinangun. Hadir pada acara itu para pejabat daerah Kabupaten Sleman, POKJA AMPL, PAKEM, Camat, Satker PKPAM, PDAM, Pamsimas ROM Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, Kepala Desa, KKM dan KPSPAMS.

Sri Muslimatun pada kesempatan tersebut mengarapkan agar seluruh elemen masyarakat dapat memanfaatkan air dengan bijak dan memelihara sarana yang sudah dibangun agar dapat berfungsi dengan baik. Ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat dari mulai perencanaan, pelaksanaan hingga pengelolaan sarana setelah selesai dibangun.

“Pekerjaan ini berasal dari panjenengan dan untuk panjenengan. Dari masyarakat untuk masyardkat. Ketersediaan air sangat penting, karena itu air harus tetap mengalir, selalu bersih, mulai hari ini sampai waktu yang tidak terbatas,” katanya.

Wakil Bupati Sleman mengingatkan bahwa biaya pembangunan sarana air bersih perdesaan melalui Program pamsimas itu cukup mahal, sehingga biayanya ditanggung bersama oleh dana APBN dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, APBD, APBDes, dan bahkan ada kontribusi dari masyarakat. Karena itu, sarana itu harus dipelihara dengan baik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat desa secara maksimal.

Beberapa warga desa yang diminta tanggapannya langsung mengaku sangat gembira dengan adanya program Pamsimas yang menyediakan air bersih untuk kebutuhan warga desa, sehingga tidak perlu lagi membeli. "Kami merasa bersyukur dan mengucapkan terima kasih karena adanya Pamsimas sangat bermanfaat. Kami sekarang bisa dapat air bersih setiap saat, dan tidak lagi menggunakan air tanah yang mengandung zat besi," kata seorang warga desa bernama Yuni.

Pada kesempatan itu Wakil Bupati Sleman juga mengingatkan agar warga desa yang menikmati air bersih Pamsimas untuk bergotong royong dan disiplin membayar iuran air bersih. “Jumlah iuran harus ada, besarannya silakan dirembugkan. Jangan hanya mau nikmatnya saja, tapi lupa bayar iuran," kata Sri Muslimatun.

Ia juga memuji konsep program Pamsimas yang melibatkan langsung masyarakat desa dari mulai perencanaan hingga pembangunan dan pengelolaannya. Ia meyakini, jika proses pembangunan melibatkan masyarakat, maka sarana yang dibangun senantiasa terpelihara dengan baik. Sebaliknya, masyarakat selaku pengguna, juga harus memiliki rasa memiliki atas sarana yang telah dibangun.

Sementara itu Kepala Bappeda Kabupaten Sleman, Kunto, menjelaskan, pelaksanaan program Pamsimas tahun anggaran 2017 dan 2018 telah berjalan dengan baik, standarnya juga baik. Bahkan Kabupaten Sleman mendapat penghargaan sebagai salah satu percontohan design universal sarana Pamsimas yang ramah bagi penyandang disabilitas. Sarana Pamsimas yang dibangun di Desa Bokoharjo merupakan satu satunya bangunan yang ramah bagi penyandang disabilitas.

"Kabupaten Sleman pada tahun 2017 telah mendeklarasikan Bebas Buang Air Besar Sembarangan/Bebas BABS. Hingga 2018 ini, sebanyak 37 desa atau 20 persen dari total desa di Kabupaten Sleman dinyatakan bebas BABS," katanya.

Sementara itu Camat Pakem, Suyatno, mengapresiasi seluruh pemerintah desa yang mengalokasikan APBDes untuk mendukung program Pamsimas. Desa Candibinangun merupakan satu dari 10 desa yang diresmikan yang memiliki komitmen tinggi dengan mengalokasikan APBDes Rp 145 juta. Desa-desa lainnya, yaitu Wonokerto, Sindumartani, Pakembinangun, Lumbungrejo, Harjobinangun, Sumbersari, Argomulyo, dan Desa Sendangarum, juga menganggarkan APBDes untuk penanganan air minum. Total APBDes yang digelontorkan untuk mendukung program Pamsimas di 10 desa sebesar Rp 630,86 juta. (pspam/yss)

Print Berita