Foto: Suasana kegiatan Workshop Pemutakhiran SMM yang dipimpin Direktur Pengembangan SPAM, Ir. Agus Ahyar, M.Sc di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Direktorat Pengembangan SPAM Gelar Workshop Pemutakhiran SMM

Jakarta – Meskipun Permen PU 04/PRT/M/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu (SMM) sudah tidak berlaku sejak 12 Agustus 2018 lalu saat terbitnya Permen 20/PRT/M/2018 tentang Penyelenggaraan SPIP di Kementerian PUPR, namun SMM masih mungkin diterapkan dalam menunjung proses bisnis Direktorat Pengembangan SPAM.

Hal itu dikemukakan Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), Ditjen Cipta Karya, Ir. Agus Ahyar, M.Sc pada kegiatan workshop Pemutakhiran SMM Direktorat Pengembangan SPAM di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Dikemukakan bahwa SMM berguna sebagai perangkat pedoman pelaksanaan secara terjadwal, efektif, efisien dan akuntabel untuk mencapai sasaran ‘Tercapainya Tata Kelola Pemerintah Yang Baik (Good Governance) Tahun 2025’.

“Secara prinsip SMM masih dapat diterapkan dan berguna sebagai tools melaksanakan tusi secara efektif, efisien dan akuntabel,” katanya.

Menurutnya, Permen PUPR No.20/PRT/M/2018 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) penekanannya ada pada pengendalian risiko pelaksanaan tusi, sedangkan penerapan SMM dilakukan secara utuh pada setiap proses bisnis aspek pelaksanaan tusi organisasi yang diarahkan untuk menjamin output kegiatan.

Namun demikian, Agus Ahyar meminta agar dilakukan pemetaan keterkaitan antara SMM dan SPIP, sehingga SMM yang telah dimutakhirkan dapat terintegrasi dengan SPIP.

“SMM direkomendasikan untuk tetap dapat diterapkan sebagai sistem kerja organisasi dengan menekankan peningkatan peran critical stage dan manajemen risiko proses bisnis Direktorat Pengembangan SPAM,” katanya.

Dalam kegiatan workshop tersebut mengemuka definisi dan pengertian mengenai keterkaitan antara SMM dan SPIP, di antaranya bahwa SMM merupakan siklus manajemen yang berlaku umum dan lebih bersifat hard control, sedangkan SPIP merupakan ruh/jiwa seluruh siklus manajemen dan lebih bersifat soft control.

Hard Control dapat memandu perilaku karyawan melalui kebijakan dan prosedur, sedangkan Soft Control dapat mempengaruhi perilaku karyawan dan memastikan kepatuhan terhadap prosedur. SPIP merupakan fondasi SMM yang efisien, yang dapat secara langsung mempengaruhi perilaku organisasi dengan mendorong perilaku organisasi menjadi positif.

Proses Bisnis

Dalam penerapannya, proses bisnis kegiatan di Direktorat Pengembangan SPAM yang akan di-SMM-kan haruslah memenuhi kriteria, yaitu rutin dilaksanakan, mencerminkan profil Direktorat PSPAM, cepat terlihat dampaknya, menunjukkan kontribusi penting direktorat, berdampak nasional, dan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi program.

Menurut Direktur Pengembangan SPAM, Visi Direktorat Pengembangan SPAM dalam kebijakan mutu adalah tetap berkomitmen untuk berkontribusi melaksanakan kegiatan penyediaan akses air minum aman, merata, terjangkau, dan berkelanjutan di Indonesia, sesuai tugas fungsinya secara profesional dan sinergis dengan para pemangku kepentingan.

“Direktorat Pengembangan SPAM sebagai entitas pemerintahan yang akuntabel, transparan, efisien dan efektif, dapat berkontribusi dalam penyelenggaraan sistem penyediaan air minum yang merata dan terjangkau pada tahun 2030,” kata Agus Ahyar.

Siklus penerapan SMM adalah perencanaan, penerapan, evaluasi dan audit, serta perbaikan yang berlanjut. Dalam proses penerapan, harus dilakukan pengendalian dokumen yang benar, pengendalian rekaman, tindakan pencegahan, mengendalikan dengan baik produk yang tidak sesuai, dan melakukan tindakan korektif yang tepat. (pspam/yss)

Print Berita