Jajaran Pengurus Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Tingkat Provinsi NTT.
Foto: Jajaran Pengurus Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Tingkat Provinsi NTT.
KP-SPAMS dan Asosiasi Pengelola SPAMS Harus Kuat Demi Keberlanjutan Program Pamsimas

KP-SPAMS dan Asosiasi Pengelola SPAMS Harus Kuat Demi Keberlanjutan Program Pamsimas
Mataram, NTB - Ketua Asosiasi Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (SPAMS) Perdesaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Drs Wahid Hasan Tohri adalah tokoh masyarakat yang dikenal luas di Provinsi NTB, terutama dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Sejak 2019 ia memimpin Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Provinsi yang beranggotakan delapan Asosiasi tingkat kabupaten dan 538 Kelompok Pengelola SPAMS (KP-SPAMS) tingkat desa.

KP-SPAMS adalah lembaga yang dibentuk masyarakat desa untuk mengelola sarana air minum yang dibangun melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Program Pamsimas merupakan platform pembangunan air minum dan sanitasi perdesaan yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Dalam pertemuan dengan Pamsimas Provini NTB (ROMS-10 NTB), medio Juni 2021 lalu, Wahid Hasan menyampaikan buah pikiran dan harapannya terkait kelembagaan KP-SPAMS dan keberlanjutan program Pamsimas yang akan berakhir tahun 2021 ini.

Ia menguraikan dengan jelas peran penting KP-SPAMS dalam pengelolaan program Pamsimas di NTB. Program Pamsimas masuk NTB tahun 2014, dan hingga saat ini telah dilaksanakan di delapan kabupaten, yakni Kabupaten Bima (mengintervensi sebanyak 86 desa), Dompu (54 desa), Sumbawa Besar (65 desa), Sumbawa Barat (38 desa), Lombok Timur (92 desa), Lombok Tengah (87 desa), Lombok Barat (78 desa), dan Kabupaten Lombok Utara (38 desa).

"Seluruhnya ada sebanyak 538 desa Pamsimas di NTB. Dan di tiap-tiap desa lokasi Pamsimas dibentuk KP-SPAMS untuk mengelola sarana air minum perdesaan terbangun, sedangkan di tingkat kabupaten dibentuk Asosiasi Pengelola SPAMS Kabupaten yang menaungi KP-SPAMS tingkat desa. Semuanya dibentuk dengan Akta Notaris dan SK Bupati," katanya.

Dikemukakan, program Pamsimas bertujuan untuk meningkatkan jumlah jiwa yang dapat mengakses air minum dan sanitasi secara berkelanjutan, serta meningkatkan praktik hidup bersih dan sehat di masyarakat, meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal (pemerintah daerah) maupun masyarakat dalam penyelenggaraan layanan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat.

"Hadirnya program Pamsimas sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa. Sebelum Pamsimas masuk ke desa, warga desa harus berjalan cukup jauh ke lokasi sumber air dan rela antri berjam-jam untuk mendapatkan air b ersih, belum lagi tenaga pengangkutan yang harus disiapkan karena sulitnya akses menuju ke lokasi sumber air," kata Wahid Hasan Tohri.

Menurutnya, tidak berlebihan apabila para ibu rumah tangga mengatakan bahwa "Lebih berharga air daripada beras". Ungkapan itu mengandung kebenaran, karena untuk apa ada beras, namun tidak ada air untuk menanak. Air, katanya, sangat bernilai dan berharga bagi manusia. Setiap manusia sudah pasti membutuhkan air agar bisa terus bertahan hidup.

Wahid Hasan kemudian menyontohkan warga Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, yang memperoleh program Pamsimas pada tahun 2017. Sarana air minum perdesaan tersebut kemudian dikelola KP-SPAMS 'Tereng Mas' dan mampu melayani kebutuhan air minum bagi warga melalui 200 sambungan rumah (SR).

"Bahkan KP-SPAMS juga memasok kebutuhan air untuk tempat wisata wahana kolam renang yang dikelola home stay Peraja Coffee dan penghuni asrama Ponpes Al-Hafizin yang menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar TK PAUD, MI, SMP, dan SMK. Kemudian juga mampu memasok kebutuhan air untuk usaha peternakan sapi dan ayam potong milik masyarakat," katanya.

Manfaat Pamsimas

Wahid juga bercerita tentang kegembiraan warga Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, setelah desa mereka menjadi sasaran Pamsimas pada tahun 2017. Bukan hanya menghilangkan kesulitan warga desa terhadap air bersih, namun berkat hadirnya air bersih setiap saat dengan mudah, warga desa menjadi lebih sehat dan berhasil menerapkan pola hidup sehat dan bersih.

"Bahkan karena pengelolaan sarana air minum dan sanitasi Pamsimas itu oleh KP-SPAMS 'Oi Ndai' yang bagus, desa ini kembali mendapat bantuan program air minum dari Kementerian PUPR melalui program Hibah Insentif Desa (HID) pada tahun 2020," katanya.

Selain itu, KP-SPAMS Oi Ndai juga berhasil mengembangkan usaha peternakan dan pertanian, terutama tanaman hortikultura. Di bidang peternakan mampu mencukupi kebutuhan air minum ternak, budidaya pakan hijau, dan suplai air untuk pembersihan kandang ternak. Rencananya, Pemerintah Desa Doridungga berencana mengembangkan program wisata air kolam renang (pemandian).

Contoh sukses lain karena kinerja adalah KP-SPAMS yang baik adalah KP-SPAMS Aik Dewa di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, yang mengelola 700 sambungan rumah (SR). Tidak tanggung-tanggung, KP-SPAMS desa itu akan bekerja sama dengan BUMDes untuk mengembangkan produksi air dalam kemasan.

"Masuknya program Pamsimas telah merubah mindset dan cara pandang warga akan pentingnya ketersediaan air minum yang aman dan sanitasi yang layak bagi warga masyarakat. Program Pamsimas telah menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik, seperti memasak air sebelum diminum, membiasakan cuci tangan pakai sabun, dan meninggalkan kebiasaaan buruk buang air besar sembarangan," kata Wahid Hasan.

Motto Pamsimas "Mendekatkan Sumber Air Dengan Warga", menurutnya, memberikan efek yang meluas, terutama dalam perilaku hidup sehat dan bersih, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan membuka peluang usaha perdesaan. Termasuk ikut mengampanyekan dan menyosialisasikan pentingnya perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS) dan cuci tangan pakai sabun (CTPS).

Pembangunan Pamsimas dengan skema pemberdayaan masyarakat, seperti membangun reservoir, tower (bak penampung), sumur bor, jaringan perpipaan hingga sambungan rumah yang mengucurkan air ke rumah-rumah warga, juga berhasil menggerakkan warga desa untuk bergotong royong. Bahkan banyak warga desa bersedia menyumbangkan tenaga, dana, dan tanah mereka untuk keberhasilan Pamsimas.

Keberadaan Asosiasi Pengelola SPAMS tingkat Provinsi dan Kabupaten, menurut Wahid Hasan, juga turut mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan pelayanan dasar air minum dan sanitasi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Asosiasi, katanya, menjadi mitra potensial dalam mengawal dan memperjuangkan keberlanjutan program sarana air minum yang telah dibangun Pamsimas, termasuk menjalin kemitraan dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

"Program Pamsimas akan berakhir tahun 2021, namun cetak biru kelembagaan yang telah dirintis Pamsimas melalui wadah kelembagaan KP-SPAMS di tingkat desa, telah tumbuh berurat berakar di tengah-tengah masyarakat, dan dipastikan akan tetap hidup dan bertahan. Kelembagaan inilah nantinya yang diharapkan mampu tumbuh dan menopang semua sarana dan parasarana air minum dan sanitasi program Pamsimas yang telah terbangun," katanya.

Mengenai masa depan KP-SPAMS pasca-berakhirnya program Pamsimas, menurut Wahid Hasan Tohri, Ada dua hall yang harus diperhatikan. Pertama, dari aspek kelembagaan, setidaknya ada empat lembaga yang saat ini ada, yaitu KP-SPAMS di setiap desa Pamsimas, Asosiasi Pengelola SPAMS Tingkat Kabupaten/Kota, Asosiasi Pengelola SPAMS Tingkat Provinsi, dan DPP Asosiasi Pengelola SPAMS Tingkat Nasional.

Sistem kelembagaan ini diharapkan menadi kekuatan yang akan menopang keberadaan sarana dan prasarana air minum dan sanitasi yang telah terbangun di masing-masing desa. Keberadaan Asosiasi di tingkat kabupaten diharapkan menjadi penghubung dengan pemerintah daerah kabupaten/kota, demikian juga Asosiasi tingkat provinsi dengan pemerintah provinsi , sedangkan DPP Asosiasi dengan Pemerintah Pusat.

Aspek kedua terkait iuran anggota atau pelanggan air minum Pamsimas di setiap desa Pamsimas yang dikelola KP-SPAMS setempat. Iuran tersebut diharapkan dapat menopang kebutuhan biaya operasional KP-SPAMS dan cadangan biaya kerusakan sehingga sarana terbangun tetap terpelihara baik dan berfungsi secara berkelanjutan.

"Apabila kedua aspek tersebut tetap dipertahankan, maka program Pamsimas akan terus berkembang dalam memberikan pelayanan air minum kepada seluruh warga desa. Namun jika sebaliknya, maka keberlangsungan program Pamsimas dipastikan akan terganggu dan semakin lama akan semakin hilang, termasuk rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur air minum perdesaan," katanya. (Mulyatno/dit.am/yss)

Print Berita