Dua petugas sedang memasang sambungan rumah (SR) program Pamsimas di Desa Desa Kertijayan, Pekalongan, yang dilengkapi dengan meteran air. Saat ini, KP-SPAMS Kertijayan mengelola 483 SR dengan jumlah warga terlayani sebanyak 2.415 jiwa.
Foto: Dua petugas sedang memasang sambungan rumah (SR) program Pamsimas di Desa Desa Kertijayan, Pekalongan, yang dilengkapi dengan meteran air. Saat ini, KP-SPAMS Kertijayan mengelola 483 SR dengan jumlah warga terlayani sebanyak 2.415 jiwa.
KP-SPAMS Kertijayan Manfaatkan Kredit Mikro Kembangkan Pamsimas

Pekalongan – Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KPSPAMS) Desa Kertijayan, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, memanfaatkan kredit mikro untuk pengembangan SPAM dalam mewujudkan 100 persen akses air minum bagi seluruh warga.

Desa Kertijayan dihuni oleh 1.450 KK atau 6.286 jiwa, terletak ± 17 Km di sebelah utara ibu kota Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ekonomi masyarakat didominasi bidang pengolahan dan perdagangan batik tradisional.

Sebelum program nasional perdesaan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) masuk desa ini tahun 2011 lalu, sebagian besar masyarakat menggunakan air yang bersumber dari sumur gali atau sumur dangkal dengan kedalaman kurang dari 20 meter untuk untuk kebutuhan sehari.

Namun, kualitas air yang dihasilkan kurang layak dikonsumsi; air berwarna keruh, bau besi, dan kadar kapur tinggi. Kondisi air minum yang tidak layak konsumsi itu sebagai akibat dari banyaknya pembuangan limbah pabrik batik atau industri rumah tangga yang dibuang ke saluran air/sungai, sehingga mecemari air sumur dangkal milik warga.

Program Pamsimas masuk desa itu sebenarnya tahun 2011, tetapi hingga kini masih banyak warga yang belum mendapatkan akses air Pamsimas, terutama dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Hal tersebut terjadi terutama karena adanya keterbatasan debit air yang mengakibatkan banyaknya daftar antrean warga untuk mendapatkan pelayanan air minum.

Seorang warga bernama Siti Auliyah mengaku sudah menanti kucuran air minum layak konsumsi selama tujuh tahun. “Alhamdulillah, warga di RT 015 telah mendapatkan pelayanan air minum Pamsimas di akhir tahun 2018 lalu, setelah menunggu bertahun-tahun,” kata Siti Auliyah di sela-sela acara pengambilan gambar pembuatan film best practice kredit mikro di Desa Kertijayan, Sabtu (11/07/2020) lalu.

Penantian panjang warga Kertijayan masih berlangsung hingga kini karena masih ada sekitar 18 persen warga yang belum memperoleh pelayanan air bersih Pamsimas. Menurut Subhan Tasurun, Ketua KP-SPAMS ‘Tirta Jaya’ Desa Kertijayan, pihaknya dan seluruh warga terus berjuang untuk menuntaskan pelayanan air minum bagi seluruh warga.

Lain lagi cerita dari yang dialami Muhamad Yusuf pada tahun 2015, saat itu ia menjabat sebagai Bendahara KP-SPAMS Tirta Jaya. “Saat itu pompa air rusak yang mengakibatkan pelayanan air kepada warga desa terhenti, dan saat itu kondisi keuangan kami sedang sulit,” katanya.

Ia mengharapkan pengurus KP-SPAMS sekarang lebih memperbaiki lagi sistem pengelolaannya, termasuk menyempurnakan administrasi keuangan dan disiplin iuran masyarakat.

Menurut Muhamad Yusuf yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris KP-SPAMS Tirta Jaya Desa Kertijayan, beberapa KP-SPAMS mulai melirik sumber pembiayaan alternatif dengan memanfaatkan lembang keuangan mikro untuk melakukan akselerasi dalam mewujudkan 100 persen akses air minum perdesaan, termasuk di Desa Kertijayan.

Keinginan tersebut terjadi setelah para pengurus KP-SPAMS se Kabupaten Pekalongan berdialog dengan Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Kabupaten Pekalongan dan Water.org, sebuah organisasi internasional bukan pemerintah/NGO yang peduli masalah air minum dan sanitasi. Saat itu diperkenalkan lembaga keuangan mikro.

“Setelah dipertimbangkan semua pihak, maka pilihan terhadap lembaga keuangan mikro ditetapkan, yaitu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) BKK Kabupaten Pekalongan, yaitu lembaga keuangan mikro milik Pemda Kabupaten Pekalongan.

Ia menambahkan, alasan KP-SPAMS pengajuan kredit mikro di antaranya adalah kondisi debit air yang tidak mencukupi, banyaknya daftar tunggu untuk mendapakan sambungan rumah (SR), dan keterbatasan kemampuan keuangan KP-SPAMS.

Untuk menyusun proposal pengajuan kredit mikro bagi pengembangan air minum perdesaan, beberapa KP-SPAMS memperoleh pendampingan dari Fasilitator Pamsimas, Asosiasi Pengelola SPAMS Perdesaan Kabupaten Pekalongan dan Water.org. Proposal itu berisi penjelasan kebutuhan biaya untuk pembangunan subsistem baru untuk diajukan ke pihak bank.

Desa Kertijayan saat ini memiliki empat subsitem SPAM. Subsistem pertama dibangun saat Pamsimas masuk tahun 2011, terdiri atas satu sumur bor, pompa, satu unit menara air yang dilengkapi jaringan perpipaan. Kedua dibangun tahun 2014 melalui Hibah Insentif Desa (HID) yang terdiri atas satu unit sumur bor, pompa, dan satu unit menara air.

Subsistem ketiga dibangun lewat Dana Desa tahun 2015 dan kas KP-SPAMS Rp 30 juta, terdiri dari satu unit sumur bor, pompa, dan baru dilengkapi bangunan menara air tahun 2019 melalui Dana Desa.

Sedangkan subsitem keempat dibangun tahun 2018, yaitu satu unit sumur bor, pompa, dan jaringan perpipaan. Tidak lama setelah subsistem keempat beroperasi, pada tahun yang sama, Desa Kertijayan mendapatkan program Hibah Air Minum Perdesaan (HAMP).

Untuk pengelolaan air, KP-SPAMS Desa Kertijayan menerapkan tarif air progresif yang diatur melalui Surat Keputusan Kepala Desa. Untuk penggunaan air 0-10 m3 dikenakan tarif Rp 1.400/m3, 11-20 m3 dengan tarif Rp 1.500/m3, 21-25 m3 dengan tarif Rp

1.700/m3, dan pemakaian air >26 m3 dikenakan tarif sebesar Rp 2.000/m3, ditambah biaya abudemen sebesar Rp 2.000/SR/bulan. Setiap bulannya jumlah iuran terkumpul Rp 13,2 juta. Dengan pengeluaran rata-rata per bulan sekitar Rp 10 juta, antara lain untuk listrik Rp 7,5 juta dan honor petugas Rp 2 juta, masih menyisakan pendapatan bersih sekitar Rp 3,2 juta per bulannya.

Dengan pinjaman ke bank sebesar Rp 25 juta, tenor tiga tahun, dengan angsuran Rp 944.444 per bulan, KP-SPAMS masih bisa membukukan keuangan positif untuk mengantisipasi bila terjadi gangguan/ kerusakan pada layanan air minum.

Apabila sebelumnya KP-SPAMS Desa Kertijayan hanya mengelola 112 SR dengan cakupan pelayanan 550 jiwa (2011), saat ini jumlah sambungan rumah telah mencapai 483 SR dengan jumlah warga terlayani sekitar 2.415 jiwa atau 82 persen. Seluruh SR tersebut telah dilengkapi dengan meteran air sehingga memudahkan KP-SPAMS untuk melakukan penagihan kepada pelanggan.

Terkait masih ada 18 persen warga Ketijayan kelompok MBR yang belum mendapatkan akses air Pamsimas, KP-SPAMS berencana membangun sumsistem kelima untuk menjangkau warga Dusun Pasangan (Rw 01), termasuk pengadaan genset sebagai antisipasi saat terjadi pemadaman listrik.

Pembangunan subsistem baru ini diharapkan dapat menambah 75 SR baru untuk melayani sekitar 425 jiwa. Setelah pinjaman bank tahap pertama lunas akhir tahun 2020 ini, rencananya akan dilakukan ‘top up’ pinjaman untuk membiayai rencana tersebut. (pspam/yss)

Print Berita