Seorang warga Gampong Paya Udeung, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, sedang mencoba kran air bersih sambungan rumah yang dilengkapi dengan meteran air program Pamsimas. Program Pamsimas mampu menghadirkan air bersih layak konsumsi bagi seluruh masyarakat perdesaan.
Foto: Seorang warga Gampong Paya Udeung, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, sedang mencoba kran air bersih sambungan rumah yang dilengkapi dengan meteran air program Pamsimas. Program Pamsimas mampu menghadirkan air bersih layak konsumsi bagi seluruh masyarakat perdesaan.
Warga Gampong Paya Udeung Nikmati Air Bersih Pamsimas

Nagan Raya, Aceh – Setelah satu tahun pembangunan menara air dan jaringan pipa air minum program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Gampong (Desa) Paya Udeung, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, akhirnya air bersih mengaliri desa itu.

Pemerintah Gampong Paya Udeung mendukung penuh program nasional air minum perdesaan itu, termasuk menyediakan dana dari APBdes dan menggerakkan warga desa untuk gotong-royong membangun menara air, memasang jaringan pipa air minum, dan sambungan rumah (SR) di rumah-rumah warga.

Keberhasilan program Pamsimas yang mendekatkan mendekatkan air bersih ke rumah warga desa tersebut tidak terlepas dari konstribusi masyarakat berupa in-cash (dana tunai) dan in-kind dalam bentuk gotong-royong bersama warga dalam pembangunan sarana air minum.

Menurut Koordinator Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) Gampong Paya Udeung, Yuliana Yatim, program Pamsimas di desanya mulai dilaksanakan pertengahan 2019 lalu dengan membangun sumur bor yang menghasilkan debit air 1,5 liter per detik dan dilengkapi dengan tower menara air.

“Alhamdulillah program berjalan dengan baik, pelaksanaannya kita lakukan secara swakelola, baik pekerjaan fisik dan pemberdayaan masyarakat Gampong untuk pengelolaannya,” katanya.

Kepala Desa (Keuchik) Gampong Paya Udeung, Anwar, juga bersyukur program Pamsimas selesai tepat waktu, dan segera mengundang seluruh masyarakat pengguna air bersih untuk bermusyawarah menentukan tarif pemakaian air dan rencana pemeliharaan dan pengelolaannya. Pertemuan digelar hari Minggu (14/06) lalu.

“Kami bermusyawarah membahas peraturan, tata tertib dan tata cara pembayaran iuran, dan kemudian akan dikukuhkan menjadi “Qanun” Gampong (Peraturan Desa). Saya harap hasil musyawarah dapat disetujui seluruh warga desa,” katanya.

Koordinator Pamsimas (PC) Provinsi Aceh, Wiendra Perdana, sangat mendukung kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah Gampong Paya Udeung yang membuat “qanun” yang mengatur pengelolaan air bersih di gampong itu. ”Qanun pengelolaan air harus adil dan diterima seluruh masyarakat,” katanya.

Pengelolaan air bersih itu diserahkan kepada Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KP-SPAMS) Gampong Paya Udeung yang sudah dibentuk, dan saat ini jumlah sambungan rumah (SR) mencapai 72 SR.

“Jumlah sambungan rumah saat ini sebanyak 72 SR, dilengkapi dengan meteran air, sehingga memudahkan dalam perhitungan tarif air,” kata T. Habibie Jauhari, Ketua KPSPAMS Ie Alue Pleh Kampung Paya Udeung.

Setiap bulannya, pengurus KPSPAMS dapat mengumpulkan iuran warga hingga mencapai Rp 2.800.000. Pendapatan kotor tersebut kemudian dikurangi biaya operasional untuk membayar listrik sebesar Rp 400.000, dan sisanya masuk kas KP-SPAMS.

“Pengeluaran hanya untuk membayar listrik saja. Tidak ada pengeluaran lain. Tidak ada pengeluaran uang untuk honor pengurus KP-SPAMS, itu sudah disepakati,” kata Habibie Jauhari.

Ia berharap memperoleh tambahan pemasukan untuk kas KP-SPAMS yang akan dibelanjakan untuk pembelian pipa distribusi, sambungan rumah, kran air, dan meteran air, sehingga air bersih Pamsimas bisa mengalir dan menjangkau seluruh rumah warga yang selama ini kekurangan air bersih.

Kepala Desa (Keuchik) Gampong Paya Udeung, Anwar, berjanji tahun depan pihaknya akan mengucurkan dana desa sebesar Rp 85 juta untuk pengembangan sarana air minum Pamsimas, terutama untuk menambah jumlah sambungan rumah.

Gampong Paya Udeung saat ini dihuni 120 kepala keluarga atau 328 jiwa. Meskipun letak desa itu ada di sisi Sungai Nagan Raya yang airnya berlimpah, namun hampir 80 persen kondisi sarana air minum desa tidak menghasilkan menghasilkan air minum layak konsumsi.

“Hadirnya program Pamsimas mampu memberikan solusi keterbatasn air bersih layak konsumsi, dan kini seluruh warga desa sudah menikmati air bersih dengan mudah karena air langsung mengalir ke setiap rumah warga,” kata Yuliana Yatim. (pspam/yss)

Print Berita