Suasana pembukaan pelatihan Kader AMPL se Kabupaten Bogor yang difasilitasi oleh Program Pamsimas TA 2019. Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan peran Kader AMPL dalam keberlanjutan Program Pamsimas.
Foto: Suasana pembukaan pelatihan Kader AMPL se Kabupaten Bogor yang difasilitasi oleh Program Pamsimas TA 2019. Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan peran Kader AMPL dalam keberlanjutan Program Pamsimas.
Kader AMPL Miliki Peran Penting Bagi Keberlanjutan Program Pamsimas

Bogor – Kader Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) memiliki peran penting dalam keberlanjutan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), khususnya terkait dengan pemanfaatan dana desa.

Hal itu dikemukakan Ketua District Project Management Unit (DPMU) Kabupaten Bogor, Raya Al Fajar, MM, ketika memberikan pengarahan pada pembukaan Pelatihan Kader AMPL Kabupaten Bogor di Bogor beberapa waktu lalu. Pelatihan difasilitasi Program Pamsimas TA 2019 dan diikuti 45 kader AMPL dari Desa Pamsimas Tahun 201 7 dan 2018.

Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan peran kader AMPL dalam mendukung keberlanjutan program Pamsimas.

“Kader AMPL harus mampu mengawal, mengingatkan dan mendorong pemerintah desa dalam mengalokasikan dana desa untuk pembangunan air minum dan sanitasi desa,” katanya.

Menurut Ketua DPMU Bogor, RPJMN 2015–2019 mengamanatkan target pencapaian universal access 100 persen akses air minum dan sanitasi di akhir tahun 2019. Namun dengan memperhatikan capaian saat ini dengan target waktu yang tersisa, dibutuhkan proses yang lebih lama, kerja keras dan kerja bersama semua pihak, terutama dalam kolaborasi pendanaan.

Terkait dengan dana desa, ia mengingatkan para kader AMPL untuk mengawal dan mendorong pemerintah desa dalam mengalokasikan dana desa untuk pembangunan air minum dan sanitasi desa.

 “Tolang kawal dan pastikan PJM Pro-Aksi dan RKM masuk ke dalam perencanaan dan penganggaran desa,” kata Raya Al Fajar yang juga menjabat Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan Dinas PUPR Kabupaten Bogor.

Ia mengemukakan bahwa capaian akses aman air minum nasional saat ini baru sekitar 72 persen, sedangkan akses sanitasi layak sekitar 76 persen. Untuk Kabupaten Bogor, akses air minum aman sekitar 71 persen dan akses sanitasi layak sekitar 68 persen, sehingga masih ada gap sekitar 29 persen untuk air minum dan 32 persen untuk sanitasi layak.

Dalam upaya mewujudkan akses 100 persen akses air minum dan akses sanitasi, diperlukan komitmen dan gerakan bersama dari para stakeholders. Itu artinya, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja, tetapi juga peran serta pihak swasta/LSM, dunia usaha, akademisi bahkan masyarakat. Para kader AMPL juga harus terpanggil untuk mewujudkan cita-cita bersama mengingat air minum dan sanitasi merupakan kebutuhan dasar manusia.

Sementara itu District Coordinator (DC) Pamsimas Kabupaten Bogor, Muh Tahir, menjelaskan mengenai peran para kader AMPL dalam program Pamsimas. Kader AMPL, katanya, memiliki peran penting di desa sejak awal peminatan desa untuk ikut program Pamsimas, membantu melakukan identifikasi masalah dan analisis situasi (IMAS), penyusunan dan pengajuan proposal.

“Bahkan keberadaan kader AMPL menjadi salah satu syarat desa bisa ikut dalam program Pamsimas,” katanya.

Ketika pembangunan sarana air minum dan sanitasi selesai dibangun, dan program Pamsimas juga selesai, kehadiran kader AMPL masih sangat diperlukan. Pada tahap pelaksanaan kegiatan Pamsimas, kader AMPL diperlukan dalam menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pemberdayaan masyarakat dan pembangunan partisipatif melalui perencanaan program Pamsimas.

“Pasca-Pamsimas, kader AMPL diharapkan perannya dalam mengawal keberlanjutan di tingkat masyarakat dan mengawal isu-isu AMPL dalam proses perencanaan program pembangunan AMPL berbasis masyarakat,” katanya. (pspam/yss)

 


Print Berita