Warga Desa Batuputih Daya, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur bergotong royong membangun reservoir program Pamsimas. Sebanyak 1.212 KK warga desa itu selama ini tidak memiliki akses air minum  sehingga harus membeli air dari desa lain.
Foto: Warga Desa Batuputih Daya, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur bergotong royong membangun reservoir program Pamsimas. Sebanyak 1.212 KK warga desa itu selama ini tidak memiliki akses air minum sehingga harus membeli air dari desa lain.
Warga Desa Batuputih Daya, Sumenep: Bane Tero Tape Buto Aeng

Sumenep, Jawa Timur – Air adalah kebutuhan yang mendasar bagi seluruh makhluk hidup, termasuk manusia, karena itu ketersediaan air sangat didambakan manusia. Hal itulah yang selama bertahun-tahun didambakan warga Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

 Selama bertahun-tahun, warga Desa Batuputih Daya selalu ‘Ngantos gilina aeng’, yang dalam bahasa Madura, artinya ‘menunggu air mengalir’. Bahkan banyak warga desa yang mengeluh soal air, ‘Bane Tero Tape Buto’, artinya, ‘kami bukan ingin air, tetapi sangat butuh air’.

 Kalimat-kalimat itu muncul ketika Tim Pengelola Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) melakukan Identifikasi Masalah dan Analisis Situasi (IMAS) melalui metode partisipatif demand responsif approach, salah satu tahapan pelaksanaan program Pamsimas.

 Seperti diceritakan Kepala Desa Batuputih Daya, Moh. Harno, baru-baru ini, yang menjelaskan betapa warga desanya, yang sebanyak 1.726 KK, selama bertahun-tahun mendambakan air bersih, hingga kemudian datang program Pamsimas, yang secara bertahap melepaskan derita warga dari ketiadaan air bersih.

Desa Batuputih Daya merupakan lokasi desa Pamsimas TA 2018, meskipun hingga kini belum seluruh dusun terlayani. Desa itu terbagi menjadi enam dusun, yaitu Dusun Batu Bintang, Buruan, Buku Barak, Gunung Tengah, Bulu Temor, dan Juse Rajadengan. Sebagian besar adalah warga berpenghasilan rendah sebanyak 914 KK.

Sebanyak 1.212 KK warga desa itu belum memiliki akses terhadap air minum, sehingga banyak warga desa yang membeli air bersih dari desa tetangga. Sebagian warga ada yang secara swadaya membangun Penangkap Air Hujan (PAH), dan bagi yang memerlukan air bersih harus merogok kocek untuk membeli air PAH seharga Rp 10.000/m3. Sebagian warga lain membeli air dari desa tetangga Rp 15.000/m3.

Secara geografis, kondisi Desa Batuputih Daya berupa bebatuan sehingga sulit mendapatkan sumber air baku untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Karenanya, ketika ada tawaran program Pamsimas, masyarakat dengan didukung tokoh masyarakat dan kepala desa menyambutnya dengan gembira.

Menurut Moh. Harno, karena air adalah kebutuhan yang mendasar, maka pemerintah desa rela mengalokasikan APBDes lebih besar dari yang dipersyaratkan program Pamsimas sebesar Rp 50 Juta (di atas 10 persen).

“Bantuan Langsung Masyarakat atau BLM dari Pemerintah Pusat digunakan untuk membangun sumur bor dalam, reservoir, pengadaan mesin submersible yang dipesan dari Jerman, dan pengadaan jaringan perpipaan sepanjang satu kilo meter. Jarak sumur bor ke reservoir sekitar 1,5 Km dengan elevasi sekitar 174 meter,” kata Kepala Desa Moh. Harno.

Ia menjelaskan bahwa warga desa secara bergotong-royong membangun reservoir ((kontribusi inkind). Akibat sulitnya memperoleh air, untuk membangun reservoir, Satlak dan KKM terpaksa membeli air dari sumur bor milik warga di Dusun Gunung Tengah yang jaraknya satu kilo meter seharga Rp 300.000 per 5.000 liter.

“Dengan bantuan pompa submersible, dari sumur bor air kemudian dialirkan ke reservoir dan kemudian dipompakan ke hidran umum. Namun dana stimulant Pamsimas hanya dapat melayani kebutuhan air minum untuk dua dusun, yaitu Dusun Batu Bintang dan Dusun Buruan,” katanya.

Ia menambahkan, karena belum ada sambungan rumah (SR), maka warga dari dua dusun tersebut mengambil air dari hidran umum dengan menggunakan jerigen untuk diangkut ke rumah masing-masing. Namun demikian, hal itu sama sekali tidak memberatkan, karena air sudah ada di lokasi dusun mereka, dan tidak perlu lagi mengantri.

Dulu, warga selalu menunggu kapan air mengalir ke desa mereka, dan sekarang air sudah mengalir di desa mereka.

“Meskipun program Pamsimas baru mengaliri dua dusun dari enam dusun yang ada, hal tersebut sangat kami syukuri, karena kami tidak perlu membeli mahal lagi dan tidak perlu lagi mengantri,” kata kepala desa.

Bersama seluruh warga desa, Moh. Harno bertekad untuk menyediakan layanan dasar air minum bagi seluruh warganya di semua dusun. Salah satu cara yang ditempuh adalah mengintegrasikan program AMPL ke dalam perencanaan pembangunan desa atau RKPDes.

“Dengan dimasukkannya kegiatan AMPL ke dalam RKPDes, maka dapat dibiayai melalui APBDes. Dengan dukungan anggaran desa, maka empat dusun lainnya akan segera mendapat cipratan berkah program Pamsimas,” katanya. (pspam/yss)

Print Berita