Foto : Bapak Suharsono Adi Broto Selaku Kepala Subdit Pengelolaan Air Limbah Yang Mewakili Direktur PPLP Ditjen Cipta Karya Membuka Acara Peningkatan Kapasitas TFL Sanitasi Perdesaan Padat Karya Wilayah Timur Gelombang II (Makassar) Tahun Anggaran 2019


Peningkatan Kapasitas TFL Sanitasi Perdesaan Padat Karya Wilayah Timur Gelombang II (Makassar) Tahun Anggaran 2019

Satuan Kerja Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) bersama dengan Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Direktorat Jendral Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pada tanggal 13 - 16 Mei 2019, mengadakan kegiatan Peningkatan Kapasitas TFL Sanitasi Perdesaan Padat Karya Wilayah imur Gelombang II (Makassar) Tahun Anggaran 2019 yang diselenggarakan di Hotel Arya Duta Makassar.  Seperti yang disampaikan oleh Ketua Panitia, Bapak Andi Batara Toja bahwa peserta pada kegiatan ini berasal dari 9 (sembilan) Provinsi dengan jumlah 180 TFL, dengan perincian sebagai berikut :

  1. Gorontalo                      :    20 TFL
  2. Sulawesi Selatan           :    10 TFL
  3. Sulawesi Tenggara       :    20 TFL
  4. Papua                            :    30 TFL
  5. Papua Barat                  :    30 TFL
  6. Sulawesi Barat              :    20 TFL
  7. Maluku Utara                :    20 TFL
  8. Maluku                          :    20 TFL
  9. Sulawesi Utara              :    10 TFL

Dalam kesempatan ini, sambutan selamat datang disampaikan oleh Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulawesi Selatan, Bapak Ahmad Asyiri. Dalam sambutanya disampaikan Balai Prasarana wilayah Sulsel menyambut baik dan sangat mendukung kegiatan ini dengan harapan tujuan dan output yang diharapkan semaksimal mungkin dapat tercapai melalui peningkatan kapasitas TFL ini.

Seperti kita ketahui bahwa kegiatan Sanitasi Perdesaan Padat Karya merupakan salah satu intervensi dalam menyediakan akses terhadap sanitasi dalam rangka penurunan angka prevalensi stunting. Stunting adalah kondisi ketika balita memiliki tinggi badan dibawah rata-rata. Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Berkenaan dengan hal tersebut, upaya perbaikan sanitasi terutama yang berada di perdesaan melalui kegiatan Sanitasi Perdesaan Padat Karya ini menjadi sangat penting dalam rangka upaya mencegah dan menurunkan prevalensi stunting di Indonesia.

Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat marginal/miskin yang bersifat produktif berdasarkan pemanfaatan sumber daya alam, tenaga kerja dan teknologi lokal dalam rangka membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur sanitasi (air limbah dan persampahan) di wilayahnya. Kegiatan Sanitasi Perdesaan Padat Karya ini diprioritaskan untuk penanganan sanitasi bidang air limbah yaitu pembangunan tangki septik individual, tangki septik komunal dan kombinasi yang dilaksanakan dengan metode pemberdayaan masyarakat.  Kegiatan pemberdayaan ini bertujuan agar fasilitas yang terbangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Oleh karena itu, tahap pemberdayaan masyarakat membutuhkan perhatian yang serius dari pemerintah

Arahan dan sambutan pembukaan  Peningkatan Kapasitas TFL Sanitasi Perdesaan Padat Karya Wilayah Timur Gelombang II disampaikan oleh Bapak Suharsono Adi Broto selaku Kepala Subdit Pengelolaan Air Limbah yang mewakili Direktur PPLP Ditjen Cipta Karya. Dalam sambutannya, Kasubdit Pengelolaan Air Limbah Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, mengatakan “Kunci keberhasilan program Sanitasi Perdesaan Padat Karya adalah adanya peran dari TFL (Tenaga Fasiltator Lapangan). Merekalah yang mendampingi masyarakat dalam menyusun perencanaan, melaksanakan pembangunan dan merancang rencana operasional dan pemeliharaan dari infrastruktur yang telah terbangun. TFL memiliki peran bukan hanya sebagai pendamping masyarakat, tetapi juga sebagai motivator dan juga fasilitator dalam membina jaringan atau networking dengan pihak lain. Kemampuan yang perlu dimiliki seorang TFL bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan manajerial dan leadership. Selain itu, tantangan yang dihadapi oleh seorang TFL bukan hanya bagaimana membentuk KSM/KPP, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam membangun infrastruktur dan menyusun rencana operasional pasca konstruksi untuk menjamin keberlanjutan infrastruktur yang telah terbangun”

Acara Pembukaan Peningkatan Kapasitas TFL Sanitasi Perdesaan Padat Karya Wilayah Timur Gelombang II (Makassar) Tahun Anggaran 2019 kali ini dihadiri oleh  Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulawesi Selatan, Kepala Satker PLP dan PPK PLP Wilayah Sulawesi Selatan, Tim Teknis, Narasumber dan para TFL Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya Wilayah Timur Gelombang II. (nurhayati/subditpeplp)

Print Berita