Foto : Jambore Sanitasi 2014, Cetak Agen Perubahan Sanitasi Usia Dini


Jambore Sanitasi 2014, Cetak Agen Perubahan Sanitasi Usia Dini

Untuk memenuhi cakupan layanan sanitasi yang baik tidak cukup membangun infrastruktur namun perlunya membentuk agen-agen perubahan perilaku. Salah satu usaha Kementerian PU menunjuk anak-anak untuk menjadi agen perubahan karena akan lebih efektif. Sehingga nantinya akan memberikan pemahaman baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Kampanye pentingnya air dan sanitasi tidak hanya di kalangan orang dewasa, tapi bisa juga dilakukan untuk kalangan anak-anak. Menyadari hal itu, Kementerian Pekerjaan Umum selain terus membangun dan menyediakan akses sanitasi layak, juga mengupayakan berbagai kebijakan yang pro sanitasi salah satunya melalui kampanye perubahan perilaku yaitu Jambore Sanitasi. Jambore Sanitasi 2014 yang diikuti oleh 198 siswa siswi SLTP dari seluruh Indonesia yang berlangsung mulai tanggal 15 hingga 24 Juni 2014 di Jakarta ini bertujuan untuk mencetak agen-agen perubahan sanitasi usia dini yang diharapkan dapat menginisiasi masyarakat Indonesia agar semakin memahami bahwa dengan penanganan sanitasi yang baik, maka kita akan berkontribusi terhadap persediaan air dan energi yang berkelanjutan. Sejak dini anak-anak Indonesia diharapkan dapat menjadi pionir perubahan perilaku terhadap air minum dan sanitasi saat ini.

Melalui Jambore Sanitasi 2014 ini dilakukan kampanye perilaku peduli sanitasi melalui peran anak-anak sebagai agen perubahan. Apalagi  masa depan air akan sangat bergantung terhadap bagaimana kita memperlakukan air saat ini. Selama Jambore Sanitasi, para Duta Sanitasi dibekali dengan pengetahuan umum mengenai sanitasi dan pengetahuan teknis tentang air limbah, drainase, dan persampahan. Untuk memaksimalkan tugas sebagai Duta Sanitasi yang memberikan penyuluhan, para peserta juga mengikuti pembekalan mengenai public speaking atau teknik presentasi, kreatifitas dan alat-alat komunikasi, serta pengembangan kepribadian. Para duta sanitasi tersebut juga belajar praktek pengelolaan sanitasi berbasis komunitas dengan nara sumber individu dan organisasi pemerhati lingkungan. Pembekalan juga akan melalui kegiatan kunjungan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan ke sekolah contoh penerapan sanitasi yang baik. (AdSR)

Print Berita