Foto : Upaya Penanganan Gas Dan Pemanfaatannya


Upaya Penanganan Gas Dan Pemanfaatannya

Salah satu permasalahan di perkotaan saat ini adalah makin meningkatnya sampah rumah tangga, sementara kapasitas penyediaan infrastruktur dalam menangani sampah perkotaan tersebut tidak sebanding dengan peningkatan timbulan sampah yang ada. Pada sisi lain, pemasalahan klasik yang hampir dirasakan diberbagai kota/kabupaten adalah kecilnya alokasi dana operasional pengelolaan sampah termasuk pengelolaan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal dana yang diperlukan untuk mengelola suatu TPA dengan sistem lahan urug terkendali atau sanitary landfill yang telah diamanatkan dalam UU no.18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, memerlukan dana paling sedikit Rp. 60.000,-/ton sampah.

Pada pengelolaan TPA dengan sistem sanitary landfill, salah satu yang harus diperhatikan adalah pengelolaan gas hasil proses yang terjadi di timbunan sel sampah yang harus dikelola agar tidak lepas ke udara. Gas metana yang dihasilkan dari proses dekomposisi sampah di TPA merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK). Seperti kita ketahui efek GRK menyebabkan pencemaran udara dan meningkatkan pemanasan global.

14Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK melalui Peraturan Presiden (Pepres) no 61/2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, sebesar 26% dengan upaya sendiri hingga 2020, dan 41% dengan dukungan dari dunia internasional. Dalam bidang limbah , target penurunan adalah 0,048 giga ton CO2e  dengan sektor sampah sebanyak 0,046 Gton CO2e. Sehingga emisi gas dari TPA harus dikelola supaya tidak langsung lepas keudara tetapi perlu ditangani atau dimanfaatkan menjadi energi listrik atau gas.

Pada saat ini, beberapa kota di Indonesia sudah memanfaatkan gas dari TPA tersebut, baik oleh Pemda sendiri maupun kerjasama dengan swasta. Banyak Pemda yang memberikan prioritas terhadap penanganan sampah dan pengelolaan TPA mencoba secara sederhana mengumpulkan dan memanfaatkan gas metana yang di‘produksi’ dari TPA, kemudian memanfaatkannya untuk penerangan listrik di TPA dan juga mengalirkan gas metana tersebut untuk masyarakat sekitar sebagai pengganti bahan bakar LPG untuk memasak.

Upaya dan pengalaman yang sudah dilakukan berbagai Pemda tersebut perlu di apresiasi dan disebarluaskan agar menjadi ide daerah lain untuk mengelola juga gas TPA di daerah masing-masing. Selain itu, saat ini Indonesia juga sedang terus giat meningkatkan energi terbarukan, dimana salah satunya dari sektor sampah seperti di dorong melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No 19 Tahun 2013 , sehingga diharapkan upaya peningkatan penyediaan energi terbarukan serta upaya penurunan emisi GRK dapat menjadi salah satu pendorong dalam pelaksanaan penanganan gas di TPA secara lebih baik lagi.

16Workshop ini diselenggarakan adalah dalam rangka mendorong peningkatan penanganan gas yang dihasilkan akibat proses pengelolaan sampah di TPA. Dengan meningkatnya pengelolaan gas di TPA yang dikelola secara sistem sanitary/controlled landfill maka diharapkan upaya penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan dapat terlaksana secara maksimal.  Pada sisi lain, pemanfaatannya menjadi energi akan mmbantu pemerintah dalam menangani keperluan energi dari energi terbarukan. Diharapkan kontribusi pihak swasta melalui kerjasama dengan pemerintah pad sektor persampahan akan meningkatkan upaya tersebut lebih cepat lagi, sehingga tidak saja permasalahan operasional pengelolaan sampah dapat diatasi tetapi juga penanganan permasalahan pengelolaan emisi juga dapat ditingkatkan. (nina)

Print Berita