Foto : Dit. Pengembangan PLP Terus Berupaya Mendorong Percepatan Sanitasi


Dit. Pengembangan PLP Terus Berupaya Mendorong Percepatan Sanitasi

Cakupan pelayanan sanitasi yang masih rendah dapat dilihat dengan masih adanya sebagian masyarakat perkotaan yang membuang limbahnya secara sembarangan dan hampir dipastikan telah menjadi penyumbang terbesar dalam berbagai kasus pencemaran lingkungan dan penurunan kesehatan masyarakat. Tercemarnya sumber-sumber air karena pencemaran sampah dan limbah juga akan mempengaruhi kualitas air baku. Dari kondisi eksisting sumber air baku yang ada, maka perlu kiranya dilakukan upaya-upaya perlindungan dan pelestarian sumber air baku. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka menjaga agar kualitas air tersebut dapat dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan tingkat mutu air dan sesuai dengan kondisi alamiahnya. Upaya perlindungan sumber air tersebut dapat dilakukan dengan upaya pelestarian dan perlindungan pada sumber air yang terdapat di hutan lindung. Sedangkan pengelolaan kualitas air pada sumber air di luar hutan lindung dilakukan dengan upaya pengendalian pencemaran air yaitu upaya memelihara fungsi air agar memenuhi baku mutu air.

Sejalan dengan diselenggarakannya Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) yang bertujuan untuk mengadvokasi sektor sanitasi dan air minum, KSAN diarahkan untuk mendorong upaya menyelesaikan target-target yang tertuang dalam RPJMN 2010-2014 dan MDGs 2015 serta menjaga keberlanjutan pembangunan yang telah dilakukan berbagai pelaku. KSAN yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta, 29-31 Oktober 2013 ini merupakan salah satu agenda nasional sekaligus momentum untuk memperluas komitmen untuk pembangunan air minum dan sanitasi. Kementerian PU, sesuai dengan tema air minum dan sanitasi, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman dan Direktorat Pengembangan Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya terlibat aktif dalam upaya mendorong percepatan pembangunan sanitasi dan air minum di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan amanat dan tugas pemerintah untuk terus memberikan pengertian dan peningkatan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya menangani air limbah dengan baik dan sehat. Perlu upaya serius dan terus menerus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan lingkungan, keinginan dan kebanggaan untuk memiliki fasilitas air limbah yang baik dan sehat, serta kesadaran untuk tetap memelihara fasilitas air limbah yang ada dalam rangka pengendalian pencemaran lingkungan. Hal ini penting dilakukan karena pada dasarnya masyarakat mempunyai potensi besar dalam memberikan kontribusinya dalam penyelenggaraan prasarana sarana sanitasi dan pelestarian lingkungan. Untuk itu, akses masyarakat akan segala macam informasi yang berhubungan dengan peningkatan pemahaman terhadap penyelenggaraan sanitasi, pelestarian serta perlindungan sumber air baku harus selalu dapat ditingkatkan. Masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap tahapan proses pembangunan prasarana sarana bidang sanitasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga paska konstruksinya.

Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tersebut terus dilakukan secara serius oleh  Kementerian PU, yang hingga saat ini memiliki beberapa program untuk meningkatkan sektor sanitasi dan air minum, diantaranya, program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), Sanitasi Berbasis Masyarkat (SANIMAS), Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Rencana Pengamanan Air Minum( RPAM).

Untuk program PPSP sampai dengan tahun ini, Kabupaten/Kota yang telah berkomitmen mendorong pembangunan sanitasi melalui penyusunan Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten (SSK) sebanyak 346 Kabupaten/Kota. Jumlah ini meningkat tiap tahunnya dari hanya 22 kabupaten/Kota pada tahun 2009, beranjak menjadi 41 Kabupaten/Kota pada 2010, 58 Kabupaten/Kota di tahun 2011, 104 Kabupaten/Kota di tahun 2012 dan tahun ini terdapat 126 Kabupaten/Kota. Kementerian Pekerjaan Umum terus berupaya mendorong perbaikan kondisi sanitasi dan air minum dengan mengusung beberapa program seperti Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS).

Program SANIMAS yang mulai dinisiasi pertama kali pada tahun 2003, hingga saat ini telah berhasil direplikasi sebanyak 5000 sarana sanitasi komunal (dengan rata-rata jumlah pemanfaat 200 jiwa). Sementara itu, untuk meningkatkan penyediaan air minum khususnya bagi masyarkat perdesaan dan peri-urban, telah dibangun sarana air minum di 6262 desa di 109 Kabupaten/Kota sejak tahun 2008. Target ini akan bertambah dengan dilanjutkannya PAMSIMAS ke PAMSIMAS II yang memiliki target sebesar 5000 desa di 156 Kabupaten/Kota di 32 Provinsi.

Kementerian PU hingga kini selalu mendukung langkah-langkah positif bagi kemajuan sanitasi dan air minum di Indonesia. Air minum dan sanitasi tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu perlu sinergi dengan banyak pihak baik antar pelaku pemerintah maupun non-pemerintah untuk memastikan keberlanjutan penyediaan akses sanitasi dan air minum yang layak bagi masyarakat. Semua pihak memiliki perannya dan tanggung jawab masing-masing dalam pembangunan air minum dan sanitasi. Ini tidak akan berkelanjutan tanpa didahului dari adanya kesadaran masyarakat. Tanpa adanya rasa butuh dan mau serta mampu untuk mengelola sarana yang telah terbangun, maka pembangunan air minum dan sanitasi akan sia-sia. sesuai yang diutarakan oleh Direktur Pengembangan Air Minum, Danny Sutjiono pada program Coffee Break TV One, Jum’at (25/10/2013).

Penyelenggaraaan KSAN diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan sinergi semua pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, serta masyarakat akan pentingnya sanitasi dan air minum. Karena masalah sanitasi dan air minum bukan lagi urusan individu atau bersifat sektoral, tapi telah menjadi urusan bersama yang harus melibatkan seluruh pihak, baik pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya sebagai mitra pembangunan. (Swd/AdSR)

Print Berita