Kantor Kementerian PU Berupaya Mewujudkan Zero Waste

IMG_2414-911111_172x172Gedung Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) merupakangreen building atau gedung hijau ramah lingkungan yang merupakan pioner green building di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa Indonesia tidak mau tertinggal dalam era pengembangan green building. Dengan konsep green building, Gedung KemenPU mampu menghemat listrik dan air secara signifikan. Dengan sistem pencahayaan yang diatur sedemikian rupa serta untuk adanya water treatment untuk sistem daur ulang pengelolaan airnya, Kementerian PU mengklaim bahwa Gedung KemenPU bisa menghemat listrik hingga 44%, dan mampu menghemat air hingga 81%. Dengan prestasi tersebut, Gedung Kementerian Pekerjaan Umum berhasil memperoleh Greenship berlevel platinum dari Green Council Building Indonesia, pada Maret 2013.

IMG_2377Bukan hanya pengelolaan air dan listrik saja, Kementerian PU juga berupaya keras untuk mengolah sampahnya dengan pendekatan sistem zero waste untuk sistem penanganan sampah di lingkungan kantornya. Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangkaian Hari Bakti PU ke-68, Menteri Pekerjaan Umum pada Minggu, 1 Desember 2013, telah meresmikan pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kantor Kementerian Pekerjaan Umum, yang berlokasi di dekat sisi timur lapangan parkir gedung Cipta Karya.

Sistem penanganan sampah di lingkungan kantor Kementerian PU dimulai dari pemilahan sampah dari sumbernya, yaitu berupa bin penampungan sampah sejumlah 5 buah yang dibedakan dengan warna. Untuk bin warna merah diperuntukkan untuk sampah buangan beracun dan berbahaya, warna hijau untuk sampah makanan dan sampah halaman, warna kuning untuk sampah plastik, sampah gelas, dan sampah logam, warna biru untuk sampah kertas, dan warna abu-abu untuk sampah tekstil, sampah kain, dan sampah lain-lain. Sampah yang telah terpilah ini kemudian diangkut ke TPST yang telah terbagi dalam 5 buah wadah sampah.

Untuk sampah organik makanan diolah secara biologis dengan 4 buah Modul Pengompos Semi-anaerobik dan sampah organik halaman juga diolah secara biologis dengan 2 buah Modul Pengompos Aerobik. Modul ini merupakan produk dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, dimana untuk kedua modul ini akan akan dilengkapi dengan Modul SIKIPAS (Sistem Komunal Instalasi Pengolahan Anaerobik Sampah) dengan kapasitas lebih besar pada tahun 2014, yang merupakan kerjasama penelitian antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman serta Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman.

IMG_2396Untuk sampah anorganik yang masih dapat didaurulang, akan ditangani melalui pengelolaan Bank Sampah, untuk dijual kepada pengepul. Sampah yang direncanakan untuk dijual berupa sampah logam, sampah gelas, sampah plastik, dan sampah kertas. Sedangkan sampah yang tidak dapat diolah secara biologis dan dijual melalui Bank Sampah, yaitu sampah karet, sampah tekstil, dan sampah lain-lain, akan diolah secara termal dengan menggunakan Modul SANIRA. Modul SANIRA merupakan modul yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, serta telah teruji dalam memenuhi beberapa baku mutu emisi gas buang yang disyaratkan, yaitu untuk parameter gas hidrogen fluorida, gas hidrogen klorida, gas nitrogen dioksida, gas karbon monoksida, dan gas hidrokarbon. Melalui mekanisme inilah, maka sampah di lingkungan kantor Kementerian Pekerjaan Umum yang mencapai 6,342 m3/hari, dapat ditangani secara setempat dengan tuntas melalui pendekatan zero waste. Dengan sistem ini maka Kementerian PU telah membuktikan selangkah lebih maju untuk mengolah sampahnya secara ramah lingkungan dan bukan hanya sekedar slogan belaka.