Umum

Kementerian PUPR Merampungkan Pemugaran Bangunan Gedung Cagar Budaya Tangsi Militer Belanda, Siak pada Akhir Tahun 2018

Oleh AK Jumat, 25 Januari 2019 | 10:38 WIB
Kementerian PUPR  Merampungkan Pemugaran Bangunan Gedung Cagar Budaya Tangsi Militer Belanda, Siak pada Akhir Tahun 2018
Kementerian PUPR Merampungkan Pemugaran Bangunan Gedung Cagar Budaya Tangsi Militer Belanda, Siak pada Akhir Tahun 2018

Siak - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya pada 2018 merampungkan pemugaran  dua bangunan di Kawasan Tangsi Belanda yang merupakan Bangunan Gedung Cagar Budaya berlokasi di Kel. Benteng Hulu Kec. Mempura, Kabupaten Siak Provinsi Riau.

Kabupaten Siak tercatat sebagai salah satu anggota P3KP sejak Desember 2017, dimana Bangunan Tangsi Belanda merupakan salah satu aset pusaka warisan budaya yang masuk dalam deliniasi Rencana Aksi Kota Pusaka.

Kawasan Tangsi Militer Belanda berada di tepi Sungai Siak, berseberangan dengan Istana Siak di atas lahan seluas 4088.30 m2. Pemugaran dilakukan pada bangunan A, yaitu bangunan utama tangsi berlantai 2 dan bangunan sayap yang berada di depan kawasan, serta bangunan F berbahan utama kayu yang dahulu digunakan sebagai barak tentara yang berlokasi dibagian belakang kawasan. Bangunan A direncanakan akan dimanfaatkan sebagai museum, dan bangunan F sebagai hall serbaguna.

Dengan sumber dana APBN melalui Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Riau, pemugaran  kedua gedung tersebut menelan dana sebesar Rp.4.925.870.000,-.

Pelaksanaan Kegiatan Revitalisasi Kawasan BGCB Tangsi Belanda ini dilaksanakan berdasarkan dokumen perencanaan teknis yang disusun oleh Direktorat Bina Penataan Bangunan pada tahun 2017 dengan memperhatikan prinsip-prinsip pelestarian sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01 tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Cagar Budaya yang Dilestarikan. Sebelumnya disusunnya dokumen perencanaan, terlebih dahulu dilakukan kajian aspek sejarah, ekskavasi arkeologi, pemugaran arsitektur, integrasi sejarah dan identifikasi arsitektur, yang disertai dokumen pemugaran adaptasi bangunan. Dalam penyusunan perencanaan teknis melibatkan BPCB wilayah Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau di Batu Sangkar, Balai Arkeologi Sumatera Utara, TACB Nasional, Provinsi Riau, TACB Kab. Siak, Tenaga Ahli Pelestarian dari Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA).

Dalam pemugaran bangunan tangsi,  penggunaan material pengganti sangat diminimalkan, sehingga tetap mempertahankan nilai signifikansi bangunan, seperti penggunaan material kayu utk konstruksi bangunan, bahan lantai , struktur atap, serta penggunaan material utama kapur untuk plester dinding bata. Adaptasi dilakukan pada elemen-elemen bangunan seperti penambahan ruang-ruang servis, dapur, mushola, toilet, dll dalam rangka prinsip pemanfaatan bangunan kedepan. Pembuatan replika juga untuk menggantikan atap genteng, kayu lantai, pintu, jendela, kusen yang rusak.

Di dalam kawasan tangsi terdapat 4 (empat) bangunan  yaitu gedung B,C, D, E yang pernah dilakukan pemugaran oleh Provinsi Riau pada tahun 2005, namun kondisi sekarang masih perlu dilakukan rehabilitasi. Sedangkan lansekap kawasan yang cukup luas beserta pagar keliling akan segera ditangani melalui dana APBD Kab. Siak pada tahun 2019 ini. (*satkerpblriau)