Umum

Gerakan Jaga Bhumi Kembali Launching Target untuk 2019

Oleh AK Kamis, 22 November 2018 | 15:51 WIB
Gerakan Jaga Bhumi Kembali Launching Target untuk 2019
Gerakan Jaga Bhumi Kembali Launching Target untuk 2019

Setelah pada tanggal 29 April 2018 lalu Gerakan Jaga Bhumi diluncurkan bersamaan dengan launching pembangunan Kebun Raya Mangrove di Kota Surabaya, Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) kembali lagi melakukan launching target yang kedua di Jakarta. Pada tanggal 21 November 2018 ini yang bertepatan dengan Hari Pohon Internasional, dimulai langkah kedua YKRI dalam rangka Gerakan Jaga Bhumi 2019. Bertempat di Coftea House Senayan Kawasan Gelora Bung Karno, seluruh mitra YKRI kembali berkumpul dengan satu semangat untuk Mengembalikan Kejayaan Alam Indonesia Melalui Penyelamatan Plasma Nutfah Indonesia dengan Revitalisasi dan Peningkatan Jumlah Kebun Raya di Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui YKRI merupakan mitra utama LIPI untuk mengembangkan kebun raya Indonesia di daerah, dengan harapan munculnya kebun raya di daerah-daerah melalui inisiasi daerah (kota/kabupaten/provinsi). Semenjak didirikan pada tanggal 21 April 2001 yayasan yang didirikan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri ini telah mendorong terbentuknya lebih dari 30 kebun raya baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Sampai dengan saat ini, telah tercatat 37 kebun raya yang telah launching yaitu 5 kebun raya yang dikelola oleh LIPI dan merupakan kebun raya generasi pertama yang didirikan pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, 30 kebun raya yang dikelola daerah baik oleh Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota serta 2 kebun raya yang diinisiasi dan dikelola oleh universitas dengan pendampingan dari LIPI/KR Bogor.

Pertemuan siang hari ini sekaligus launching tema Gerakan Jaga Bhumi 2019 yaitu Jagabhumi Kolaborasi. Perlu diketahui launching pertama tahun 2018 yang telah diselenggarakan di Kota Surabaya telah memberikan dampak positif terutama meningkatnya partisipasi masyarakat yang bergiat dengan kegiatan lingkungan. Melalui berbagai aksi seperti Jaga Wiyata (sosialisasi Jagabhumi di lingkungan sekolah dan kampus), Botanicum (laboratorium alam bagi generasi muda dan usia dini), Sarasehan Kalpataru (sarasehan dengan menghadirkan kisah inspiratif di bidang lingkungan peraih Kalpataru), Jaga Raga (kegiatan masal untuk meningkatkan silaturahmi sosial dan kebugaran masyarakat), serta Festival Jagabhumi (sosialisasi luas bersama masyarakat dan media dengan bermuatan budaya dan kegiatan sosial/donasi). Dari rangkaian kegiatan Jaga Bhumi yang telah dilaksanakan tersebut terkumpul donasi sebesar 2,5 M rupiah yang akan disumbangkan kepada Pemkot Surabaya guna pengembangan sarana-prasarana Kebun Raya Magrove yang akan dibangun di pesisir Surabaya.

Wakil Ketua I YKRI Ir. Michael Sumarijanto berkesempatan untuk membuka pertemuan pada siang ini. Beliau menyatakan terimakasih kepada LIPI dan Kementerian PUPR yang telah turut serta dalam membangun dan mengembangkan kebun raya di daerah. Keterlibatan kementerian/lembaga ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Indonesia serius dalam menangani masalah lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Disampaikan di pertemuan tersebut langkah selanjutnya yang menjadi target Gerakan Jagabhumi tahun 2019 adalah mendorong terbangunnya Kebun Raya Tanaman Obat di Indonesia.

Tujuan dibangunnya kebun raya sebagai kawasan konservasi tanaman obat ini karena mengingat Indonesia memiliki lebih dari 30.000 jenis tanaman yang berkhasiat obat dan baru sekitar 6.000 jenis yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan melalui Riset Penelitian Tumbuhan dan Jamu. Keanekaragaman tanaman obat di Indonesia merupakan potensi yang perlu terus digali karena dinilai sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, dapat dikatakan merupakan kearifan lokal yang patut dilestarikan. Dari sisi kedokteran, kandungan aktif tanaman obat dalam mencegah dan mengobati penyakit ternyata tidak diragukan lagi kemampuannya, sayang dari sekian jenis tanaman obat, baru sekitar 200 jenis yang sisosialisasikan kemanfaatannya.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini hadir dan berbicara mengenai strategi-strategi Kota Surabaya dalam memperbaiki permasalahan lingkungan serta tanggapannya terhadap pengembangan tanaman berkhasiat obat di Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa fakta keberhasilan yang dapat dilihat di Kota Surabaya setelah melakukan perbaikan lingkungan di seluruh sektor dengan menggunakan konsep green antara lain menurunnya resiko banjir, baik banjir yang diakibatkan oleh luapan sungai maupun banjir pasang (banjir rob) yang melanda tiap tahun dan mengakibatkan kerugian infrastruktur serta kesehatan warga. Dengan giat Walikota Surabaya menyikapi bencana banjir tersebut dengan penanaman cemara udang dan mangrove di sepanjang pesisir Surabaya serta pembangunan 4-5 buah embung tiap tahunnya.

Tri Rismaharini juga berhasil merubah paradigma yang mengatakan bahwa ruang hijau seperti taman dan jalur hijau tidak memberikan nilai ekonomi dikarenakan memerlukan pembiayaan untuk pengelolaan yang tinggi. Faktanya dengan kegigihan menata Kota Surabaya dengan taman-taman asri di seluruh penjuru kota, PAD Kota Surabaya terbukti meningkat 60% menjadi  5,2T sehingga mampu memenuhi 65% kebutuhan anggaran daerah. Tri Rismaharini mengajak jajaran pemerintah daerah untuk tidak ragu melakukan pembangunan dengan menggunakan pendekatan alam. Perubahan kondisi lingkungan menjadi lebih baik terbukti dapat meningkatkan kepercayaan infestasi dunia usaha.

Walikota Surabaya berkesempatan berbicara dalam One Planet Summit yang diselenggarakan beberapa waktu lalu oleh PBB tentang bagaimana teknologi informasi mampu mengurangi polusi yang ditimbulkan oleh transportasi serta memangkas carbon footprint. Teknologi informasi yang dikembangkan Kota Surabaya antara lain pemantauan/monitoring taman dan ruang publik, management traffic, intelejen macet,  serta pemantauan kinerja polisi sampah/polisi taman. Kerjasama dengan Kementerian PUPR dalam membangun titik-titik TPS di penjuru Kota Surabaya berhasil mengurangi timbulan sampah yang diangkut ke TPA. Dari 3.400 ton/hari, saat ini berhasil turun menjadi 1.200 ton/hari. Di TPS-TPS yang dibangun beberapa dilengkapi dengan alat perubah energi, sehingga menghasilkan 2.000 Kw-6.000Kw yang dimanfaatkan untuk penerangan taman dan jalan lingkungan.

Pandangan Tri Rismaharini terhadap khasiat tanaman obat dapat membantu masyarakat kecil dalam menekan biaya kesehatan. Selain pernyataan dari pemerintah selaku pelaku kebijakan pelestarian lingkungan, dalam pertemuan tersebut dihadirkan pula para narasumber dari dunia kedokteran (dr.Lula Kamal), bidang penelitian (kepala LIPI), serta pelaku pelestari (penerima Kalpataru – Oday Kodariyah) dalam sebuah panel yang membahas tentang keanekaragaman tanaman obat di Indonesia dan khasiatnya. Bagaimana pandangan dunia kedokteran dan pandangan para peneliti tentang khasiat tanaman obat. Disampaikan bahwa tanaman obat telah menjadi perhatian LIPI dalam pengembangan kebun raya-kebun raya di daerah melalui Tanaman Tematik Tumbuhan Obat. Dari sisi kedokteran, terkadang ‘ego’ dokter yang menjadi kendala dalam penggunaan tanaman obat, padahal melalui penelitian telah terbukti bahwa obat-obatan herbal memiliki paling sedikit resiko atau efek samping terhadap tubuh.

Wakil Ketua II YKRI Alexander Sonny Keraf, menyatakan pentingnya kerjasama antar pemangku kepentingan dalam pengembangan kebun raya, khususnya dalam kepentingannya sebagai kawasan konservasi tanaman obat. Sumbangsih pemangku kepentingan sesuai peran masing-masing sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi generasi muda. Berpihak pada lingkungan dalam pembangunan daerah memberikan keuntungan materi dan non-materi, namun yang lebih penting yaitu memberikan kesiapan bagi masyarakat dalam menghadapi bencana yang diakibatkan degradasi lingkungan seperti banjir, luapan air laut (rob) dan kekeringan. Meski kecil YKRI akan terus-menerus berupaya menggerakkan masyarakat untuk peduli lingkungan melalui Gerakan Jagabhumi. Beliau juga menyampaikan terima kasihnya kepada Kementerian PUPR yang mendukung perencanaan dan pembangunan Kebun Raya Mangrove, sebagai kebun raya mangrove terbesar yang akan dibangun di Gununganyar Surabaya. (*lukiyem/pblk)