Pagu Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun Anggaran 2014 yang hampir menyentuh Rp17 Triliun akan mendukung pembangunan software dan infrastruktur permukiman yang berkelanjutan di empat entitas. Antara lain dalam entitas regional, kabupaten/kota, kawasan, dan lingkungan. Dari desain tersebut kemud

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2014/01/ekspose1.jpg"></a>Pagu Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun Anggaran 2014 yang hampir menyentuh Rp17 Triliun akan mendukung pembangunan software dan infrastruktur permukiman yang berkelanjutan di empat entitas. Antara lain dalam entitas regional, kabupaten/kota, kawasan, dan lingkungan. Dari desain tersebut kemudian ditetapkan prioritas program bidang Cipta Karya dalam lima Klaster. Klaster A menyasar 94 kabupaten/kota strategis nasional yang menjadi Pusat Kegiatan Nasional, Pusat Kegiatan Strategis Nasional, Kawasan Strategis Nasional, MP3EI dan Kawasan Perhatian Investasi (KPI). Demikian disampaikan Direktur Jenderal Cipta Karya Imam S. Ernawi kepada Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto saat memaparkan kegiatan Ditjen Cipta Karya TA 2014 di Ruang Sapta Taruna, Rabu (15/1). Turut hadir bersama Menteri PU antara lain Wakil Menteri PU Hermanto Dardak, Sekjen Agoes Widjanarko, Irjen Kementerian PU Bambang Guritno, dan Kapuskompu Danis H. Sumadilaga. Kabupaten/kota yang tergolong dalam Klaster A harus memiliki Perda RTRW dan Perda Bangunan Gedung dan merupakan prioritas pusat, ujar Imam. Sedangkan dalam Klaster B ada 80 kabupaten/kota strategis nasional dan memiliki Perda RTRW. Sementara dalam Klaster C adalah kabupaten/kota yang memiliki pedoman rencana dan program yang berkualitas untuk pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di daerah, memiliki karakteristik daerah seperti rawan air, rawan bencana, cakupan air minum dan sanitasi rendah, tingkat kemiskinan dan kekumuhan tinggi. Syarat lain tentu saja memiliki komitmen yang tinggi. Dalam Klaster D disebutkan pemberdayaan masyarakat di bidang Cipta Karya yang bertujuan untuk penanggulangan kemiskinan di perkotaan dan perdesaan. Dalam klaster E, Cipta Karya juga membuka kemungkinan program inovasi baru, program yang diusulkan oleh daerah/stakeholder secara kompetitif dan selektif, maupun program yang ditujukan untuk memfasilitasi daerah berprestasi,lanjut Imam. (bcr)