Pecha Kucha (Bahasa Jepang) yang berarti chit chat ala Cipta Karya edisi ke-8 kali ini, Jumat (14/2), bercerita tentang keberhasilan program (best practices) Cipta Karya. Dari tujuh materi didominasi keberhasilan program pemberdayaan, sedangkan yang lainnya menampilkan sisi-sisi Cipta Karya dari per

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2014/02/pechakucha8b.jpg"></a>Pecha Kucha (Bahasa Jepang) yang berarti chit chat ala Cipta Karya edisi ke-8 kali ini, Jumat (14/2), bercerita tentang keberhasilan program (<em>best practices</em>) Cipta Karya. Dari tujuh materi didominasi keberhasilan program pemberdayaan, sedangkan yang lainnya menampilkan sisi-sisi Cipta Karya dari perencanaan, implementasi, hingga pelaporan keuangan. Direktur Jenderal Cipta Karya, Imam S. Ernawi, memuji penyajian tempat yang menampilkan nuansa perdesaan dengan atribut rumah saung ala alam perdesaan Sunda. Selain materi dan para penampil, pengaturan tempat dan metode penyajian menjadi warna lain yang selalu ditunggu oleh fans Pecha Kucha Cipta Karya. Imam mengakui ada kemajuan kreativitas penyelenggara Pecha Kucha di tiap edisinya. Pada Pecha Kucha Edisi ke-8 yang diselenggarakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Cipta Karya tersebut menampilkan penyaji pertama, Bambang AW, dari Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM). Bambang memaparkan kerjasama pemerintah dan swasta antara PT Aetra dan Pemerintah Kabupaten Tangerang. Penyaji kedua adalah Tanozisochi Lase atau yang lebih akrab dipanggil Anes. Dia mengangkat judul Membangun Karsa Meraih Karya Bersama yang berisi pengalaman mengembangkan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) bersama pemerintah daerah. Partisipan Pecha Kucha ke-8 memberi tepuk tangan meriah kepada penyaji ketiga yang bercerita tentang program berbasis komunitas yang telah diakui dunia bernama Rehabilitasi dan Rekontsruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas (REKOMPAK). Eki Arsita Rizki sebagai penyaji yang juga sebagai Kasatker Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Bencana Gempa DIY dan Jawa Tengah, Ditjen Cipta Karya. Penyaji keempat hingga ketujuh berturut-turut adalah duet dari Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP), yaitu Suhaenity dan Arni yang membahas pentingnya gender dalam program sanitasi berbasis masyarakat. Penyaji kelima, Taufik Azibi dari Dit. Bina Program, menyoal keterpaduan program bidang Cipta Karya. Sementara penyaji keenam dari Dit. Pengembangan Permukiman mengulas proses perencanaan dua arah dalam rangka mendukung program permukiman. Penyaji ketujuh, yaitu duet Arya dan Ayu dari Setditjen, tidak hanya menyajikan kesuksesan Kementerian PU meraih status opini Wajar Tanpa Pengecualian Dengan Paragraf Penjelasan (WTP DPP) berkat pelaporan keuangan yang baik. Arya dan Ayu juga sekaligus mengenalkan rencana pemberlakuan otomatisasi Sistem Laporan Keuangan (LK) yang dikenal e-LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan). Imam S. Ernawi berharap dengan penerapan e-LHP tersebut dapat menuntaskan temuan-temuan auditor dengan memetakan temuan yang dapat dipantau secara elektronik. (bcr)