Tahun 2015 merupakan awal dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Direktorat Jenderal Cipta Karya akan mewujudkan permukiman berkelanjutan melalui penanganan permukiman kumuh (pengembangan permukiman), disamping Air Minum dan Sanitasi. Upaya mengatasi permukiman

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2014/03/20140312_pak_dirjen_ketemu_wartawan_edit_gede_0065.jpg"></a> Tahun 2015 merupakan awal dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Direktorat Jenderal Cipta Karya akan mewujudkan permukiman berkelanjutan melalui penanganan permukiman kumuh (pengembangan permukiman), disamping Air Minum dan Sanitasi. Upaya mengatasi permukiman kumuh ini pekerjaannya lebih rumit , karena melibatkan permasalahan relokasi lahan untuk memindahkan masyarakat berpenghasilan rendah yang tinggal di kawasan kumuh ke rusunawa, kata Dirjen Cipta Karya Imam S. Ernawi. Imam mengatakan, untuk permukiman itu lebih banyak pihak yang terlibat dan berperan terutama masyarakat. Persoalannya tidak hanya memindahkan atau membuat hunian lebih layak, tapi termasuk masalah lahan dan alokasi ruang. "Berbeda dengan air minum, pihak-pihak yang terlibat mempunyai tugas lebih konkrit, jadi lebih mudah,tutur Imam saat ditemui sejumlah wartawan diruang kerjanya Gedung Cipta Karya lantai 2, hari ini (12/03). Imam menambahkan, selain upaya mengatasi permukiman kumuh, program lainnya adalah sanitasi. Saat ini kinerja dan kesadaran masyarakat akan sanitasi yang lebih baik jauh meningkat sehingga pelaksanaannya relatif lebih mudah, kata Imam. Imam menjelaskan, anggaran dan program Cipta Karya untuk penanganan masalah permukiman perlu didukung oleh pemerintah daerah dan peran aktif masyarakat agar hasilnya jauh lebih baik.(ari)