Setelah Palembang dan Jakarta, kegiatan penyusunan dan penajaman program bidang pembinaan dan pengembangan infrastruktur permukiman (Cipta Karya) tahun 2015 dalam rangka Konsultasi Regional Kementerian PU 2014 kembali dilaksanakan di Makasar Selasa (11/3) untuk Region III (Sulawesi, Maluku dan

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2014/03/20140312_konreg_makasar_gd.jpg"></a> Setelah Palembang dan Jakarta, kegiatan penyusunan dan penajaman program bidang pembinaan dan pengembangan infrastruktur permukiman (Cipta Karya) tahun 2015 dalam rangka Konsultasi Regional Kementerian PU 2014 kembali dilaksanakan di Makasar Selasa (11/3) untuk Region III (Sulawesi, Maluku dan Papua). Mewakili Direktur Jenderal Cipta Karya, Direktur Bina Program Antonius Budiono menjelaskan ada beberapa isu strategis nasional yang harus ditangani dalam lima tahun kedepan diantaranya pelayanan infrastruktur bagi <em>Sustainable Human Settlemen</em>, <em>MDGs</em> dan <em>SDGs</em>, keterpaduan sektor, pengembangan infrastruktur regional, pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang Cipta Karya. Dirjen Cipta Karya mengarahkan pada pelaksanaan Region III untuk mengarahkan o<em>utline</em>nya sesuai dengan laporan Dirjen di Denpasar. Outline tersebut terdiri dari isu strategis nasional, strategi peningkatan program ke-Cipta Karya-an, rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang sedang disusun bersama-sama Bappenas, ujar Antonius. Menurut Antonius, prioritas program bidang Cipta Karya dibagi pada lima klaster. Klaster A mencakup 94 kabupaten/kota strategis nasional yang menjadi pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan strategis nasional, kawasan strategis nasional, MP3EI dan Kawasan Perhatian Investasi (KPI). Kabupaten/kota tersebut sudah memiliki Perda RTRW dan Perda Bangunan Gedung. Sedangkan dalam klaster B ada 82 kabupaten/kota strategis nasional yang hanya memiliki Perda RTRW. Sementara dalam klaster C adalah kabupaten/kota yang selain memiliki komitmen, pedoman rencana, dan program yang berkualitas untuk pemenuhan SPM bidang Cipta Karya di daerah juga memiliki karakteristik daerah rawan bencana alam, air minum dan sanitasi rendah, permukiman kumuh. Klaster D mencakup pemberdayaan masyarakat di bidang Cipta Karya bertujuan untuk penanggulangan kemiskinan di perkotaan dan perdesaan. Klaster E sifatnya inovatif yang diusulkan oleh daerah guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam kegiatan ini, diberikan penghargaan kepada Kasatker tebaik di lingkungan Ditjen Cipta Karya tahun 2013 diantaranya kategori Satker Randal yaitu Satker Randal Provinsi Sumatera Barat, Satker Randal Provinsi Jawa Tengah, Satker Randal Provinsi Sulawesi Selatan.(bns)