Melanjutkan acara Coffee Morning pekan lalu, Direktorat Bina Program kembali mengadakan acara Coffee Morning untuk CPNS, Jumat (09/05/2014). Topik yang diangkat pada Coffee morning kali ini adalah mengenai komunikasi yang baik dalam organisasi. Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Bina Program Anto

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2014/05/20140509_coffee_morning_gede.jpg"></a>Melanjutkan acara <em>Coffee Morning</em> pekan lalu, Direktorat Bina Program kembali mengadakan acara <em>Coffee Morning</em> untuk CPNS, Jumat (09/05/2014). Topik yang diangkat pada <em>Coffee morning</em> kali ini adalah mengenai komunikasi yang baik dalam organisasi. Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Bina Program Antonius Budiono, Kasubdit Data dan Informasi Sri Murni Edi K, Kasubdit Program dan Anggaran Mulana MP.Sibuea, Kasubdit Kerjasama Luar Negeri Dwityo A. Soeranto, Kasubdit Evaluasi dan Kinerja Muhammad Sundoro serta Kasubag Tata Usaha Wardhiana Suryaningrum. Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PU di masa kini dan mendatang menghadapi berbagai tantangan dalam usahanya mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan. Secara organisasi dan personil, Ditjen Cipta Karya perlu memiliki dan menerapkan nilai-nilai bersama dalam melaksanakan program bidang Cipta Karya, kata Antonius. Antonius menjelaskan sesuai dengan arahan Dirjen Cipta Karya dalam tata kelola pelaksanaan program Cipta Karya yang diwujudkan dalam formasi 1, 3, 5, dan 7. Formasi Satu, Tujuan Tata Kelola Organisasi Ditjen Cipta Karya yaitu untuk mewujudkan permukiman layak huni dan berkelanjutan artinya semua kebijakan, program dan kegiatan organisasi di pusat dan daerah memiliki satu tujuan yang sama. Formasi Tiga, Internalisasi Nilai Cipta Karya yang berarti pemahaman terhadap posisi dan penugasan sebagai pejabat atau staf di lingkungan Ditjen Cipta Karya, pelembagaan di Pemda dan masyarakat mengenai tujuan Cipta Karya, penguasaan model pembangunan dan lingkungan internal bidang Cipta Karya pada setiap tingkatan. Formasi Lima, Aktualisasi Nilai Cipta Karya diantaranya kreatif dalam bekerja, menciptakan kegiatan yang dapat menginspirasi pihak lain untuk sinergi pelaksaan kegiatan Cipta Karya, pantang menyerah dalam upaya menanamkan nilai-nilai untuk melembagakan pencapian tujuan perwududan permukiman layak huni dan berkelanjutan, cara berpikir yang <em>out of the box</em> dan seluruh kegiatan yang dapat diakui dan diterima oleh masyarakat untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Terakhir, Formasi Tujuh Pilar Cipta Karya yang terdiri dari pilar pertama, transformasi nilai ke-Cipta Karya-an yang baik (setiap kebijakan, program dan kegiatan di praktikkan dengan berbasis nilai). Pilar kedua, program yang berkualitas melalui <em>planning</em>, <em>programming</em>, dan <em>budgeting</em> yang terpadu dan tidak sektoral (kegiatan yang dilaksanakan memiliki indikator kinerja utama yang terukur untuk pencapaian program secara efektif). Pilar ketiga, organisasi pembelajaran yang senantiasa lebih baik dan efektif (organisasi pada setiap tingkatan bersifat dinamis melakukan pembaruan dengan tata laksana yang responsive. Pilar keempat, sumber daya manusia yang berprilaku efektif dan responsif menjawab tantangan masa kini dan ke depan. Pilar kelima produk kegiatan yang baik, efisien, tepat waktu, berkualitas serta bermanfaat. Pilar keenam pengelolaan informasi untuk pemberian pelayanan yang efektif dan membangun <em>image</em>. Pilar ketujuh tata kelola pemerintahan yang baik. Kasubdit Data dan Informasi Sri Murni Edi K mengungkapkan tujuan dari acara <em>Coffee Morning</em> kali ini yaitu menjadikan pegawai Ditjen Cipta Karya sebagai sebagai <em>brand ambassador</em> perwakilan langsung Cipta Karya di masyarakat. 7 poin yang harus dilakukan untuk menjadi <em>brand ambassador</em> yakni, memahami arti komunikasi, harus mempunyai norma dan etika berkomunikasi, paham alat-alat komunikasi, menyelaraskan tujuan komunikasi untuk kepentingan pribadi dengan tujuan Cipta Karya sebagai sebuah organisasi, dapat menentukan keunggulan kita yang tidak dimiliki orang lain, memiliki target seperti membangun jaringan internal dan eksternal serta dapat memnfaatkan channel-channel komunikasi seperti social media, jelas Sri Murni. (ari)