Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri menyelenggarakan Konsolidasi Data Triwulan II TA 2014, di Yogyakarta, Kamis (17/07/2014). Kegiatan ini dikhususkan bagi seluruh petugas e-Monitoring Satker-Satker di lingkungan Kementerian PU dari Cipta Karya, Bina Marga dan Sumber Daya Air. Dalam sambu

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2014/07/20140718_diy_konsolidasi_bsr.jpg"></a>Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri menyelenggarakan Konsolidasi Data Triwulan II TA 2014, di Yogyakarta, Kamis (17/07/2014). Kegiatan ini dikhususkan bagi seluruh petugas e-Monitoring Satker-Satker di lingkungan Kementerian PU dari Cipta Karya, Bina Marga dan Sumber Daya Air. Dalam sambutannya Kepala Bagian Pemantauan dan Evaluasi Biro Perencanaan dan KLN Nicodemus Daud yang mewakili Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri menyampaikan, acara ini bertujuan untuk melakukan sinkronisasi data e-Mon dan e-Proc, dan pemutakhiran data Pagu pasca penghematan untuk penyusunan laporan triwulan II tahun 2014. Nico berharap pada seluruh peserta dapat mengikuti acara ini dengan sungguh-sungguh agar tujuan dari acara ini dapat terlaksana, saat ini sudah triwulan II namun realisasai masih 29,8% rencana 42,9%. "Untuk itu perlu dilakukan upaya percepatan yang lebih untuk mengejar deviasi, melalui workshop ini diharapkan Satker yang diundang dan hadir dalam acara ini dapat memproses kekurangannya tutup Nico. Sementara Kasubdit Data dan Informasi, Direktorat Bina Program Ditjen Cipta karya Sri Murni Edi menyampaikan arahan dari Dirjen Cipta Karya yaitu, pertama progres Cipta Karya hingga saat ini baru 21,23%, sedangkan Kementerian PU mencapai 31,32 %, Dirjen Cipta Karya mengharapkan dengan acara ini bisa meraih progres 30%. Kedua agar paket-paket yang sudah terkontrak penyedia jasa wajib mengambil uang muka guna mengejar progres. Ketiga paket-paket yang sudah terkontrak di e-Proc agar segera di update di e-Mon, karena data yang digunakan sebagai bahan laporan adalah data e-Mon. "Terakhir kegiatan swakelola masih banyak yang 0% karena kebanyakan yang menunggu SP2D, harusnya ketika SPM terbit sudah bisa dijadikan sebagai bahan laporan e-Mon tanpa harus bisa menunggu SP2D," tutup Sri Murni. (Randal DIY-Ahmad Wardi/ari)