Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Djouhari Kansil memimpin upacara peringatan Hari Habitat Dunia 2014 di Lapangan Kantor Gubernur Sulut, beberapa waktu lalu. Dia mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian habitat untuk mengurangi pemanasan global dan dampak kerusak

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2014/11/sulut-hhd-bsr.jpg"></a> <p style="text-align: justify;">Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Djouhari Kansil memimpin upacara peringatan Hari Habitat Dunia 2014 di Lapangan Kantor Gubernur Sulut, beberapa waktu lalu. Dia mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian habitat untuk mengurangi pemanasan global dan dampak kerusakan lingkungan lainnya.</p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;">Berdasarkan data peningkatan emisi gas rumah kaca, para ahli cuaca internasional memperkirakan planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,5C dalam waktu dekat karena akumulasi penumpukan gas tersebut. Bencana yang muncul cukup mencemaskan, diantaranya pencairan es di kutub, perubahan pola angin, meningkatnya badai atmosferik, bertambahnya organisme penyebab penyakit, perubahan ekosistem hutan, dan lainnya.</p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;">Tentunya kita tidak ingin Sulut mengambil bagian dalam merusak lingkungan, ujar Djouhari Kansil.</p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;">Djouhari menambahkan jika selama ini hutan selalu menjadi pilihan untuk menyelamatkan bumi karena kemampuannya menyerap kembali CO2, maka perairan laut ternyata juga memiliki daya netralisasi yang tak kalah besarnya, melalui berbagai organisme laut yang melimpah, seperti yang ada di Sulut.</p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;">Wakil Gubernur juga mengajak seluruh masyarakat di Sulut untuk melestarikan potensi tersebut. Kehidupan kita yang berada di pinggir laut betul-betul menjadi tumpuan untuk menyelamatkan bumi. Tidak hanya ketika bicara dampak lingkungan dan pemanasan global, tetapi juga banyak hal lain, termasuk menjadikan laut sebagai pilar pertumbuhan ekonomi (blue economy). Pilihannya satu laut dan langit harus tetap biru, demi lingkungan yang tetapterjaga lestari untuk masa depan yang cerah, tutup Djouhari. (Sinta-randal Sulut/ari)</p> &nbsp;