Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat(PUPR)memiliki peran pentingsebagai instansi pembina bangunan gedung sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung, serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Tek

<p style="text-align: justify;"><a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2015/08/pbl-kebakaran-bsr.jpg"></a></p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;">Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat(PUPR)memiliki peran pentingsebagai instansi pembina bangunan gedung sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung, serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.</p> <p style="text-align: justify;">Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya Andreas Suhonodalam acara Ngabuburit Pintar ProteksiKebakaranpadaBangunan Gedung Tinggi, di ruang Sapta TarunaDitjen Cipta Karya,Jumat(3/07/2015). Tujuan dari acara tersebutuntuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman para<i>stakeholder</i>yang terlibat dalam hal penanganan proteksi terhadap kebakaran.</p> <p style="text-align: justify;">"Peraturan Menteri ini menjelaskan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan yang terdiri atas peralatan, kelengkapan dan sarana, baik yang terpasang maupun terbangun pada bangunan yang digunakan baik untuk tujuan sistem proteksi aktif, proteksi pasif maupun cara-cara pengelolaan dalam rangka melindungi bangunan dan lingkungannya terhadap bahaya kebakaran," kata Andreas.</p> <p style="text-align: justify;">Andreas menjelaskan, dengankondisi penyelenggaraan bangunan gedung yang saat ini belum semuanya memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut, padahal bangunan gedung mempunyai peran penting dalam kegiatan manusia sehari-hari.Hal ini menjadi penting apabiladicermati dinamika perkembangan pembangunan bangunan gedung akhir-akhir ini yang cukup kompleks baik dari segi intensitas, teknologi, maupun kebutuhan prasarana dan sarananya.</p> <p style="text-align: justify;">"Beberapa kali kita dengar terjadi kebakaran pada bangunan gedung bertingkat yang tidak hanya menyebabkan kerugian secara materil tetapi juga korban jiwa. Hal ini disebabkan tidak andalnya bangunan gedung dalam menghadapi potensi bencana yang terjadi, termasuk kebakaran," tutur Andreas.<b><i> </i></b></p> <p style="text-align: justify;">Andreas berharap, acara hari ini dapat mendorong terselenggaranya bangunan gedung yang memenuhi persyaratan administratifdan teknis,untukterwujudnya bangunan gedung yang andal.Upaya inilah yang harus kita laksanakan secara berkelanjutan.</p> <p style="text-align: justify;">Narasumber yang hadir dalam acara tersebut yaitumantanMenteri Pekerjaan Umum periode 1983-1988Suyono Sosrodarsonodan Sukartono Soewarno, yang menyampaikan mengenai prasarana dan sarana evakuasi pada bangunan gedung, serta dipandu oleh moderator Antonius Budiono. (ari)</p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;"></p>