Direktorat Jenderal Cipta Karya terus berupaya meningkatkan penyerapan anggaran sesuai rencana, namun tidak mengesampingkan kualitas fisik pelaksanaan kegiatan. Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Cipta Karya Andreas Suhono saat membuka Rapat Teknis Evaluasi Pelaksanaan Program Pembangunan Bidan

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2015/08/dirjen-sultan-gede.jpg"></a> <p style="text-align: justify;">Direktorat Jenderal Cipta Karya terus berupaya meningkatkan penyerapan anggaran sesuai rencana, namun tidak mengesampingkan kualitas fisik pelaksanaan kegiatan. Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Cipta Karya Andreas Suhono saat membuka Rapat Teknis Evaluasi Pelaksanaan Program Pembangunan Bidang Cipta Karya Tahun 2015 untuk Satker Ditjen Cipta Karya di wilayah Timur, di Jakarta, Jumat (10/07/2015).</p> <p style="text-align: justify;">Andreas mengungkapkan, rapat teknis tengah tahun ini dilakukan dalam rangka mempercepat pelaksanaan program pembangunan bidang Cipta Karya dengan melakukan identifikasi permasalahan dan menyusun langkah-langkah percepatannya.</p> <p style="text-align: justify;">Sebanyak 331 paket Ditjen Cipta Karya belum dilelang, permasalahannya adalah ketidaksiapan lahan dan Detail Engineering Design (DED) yang seharusnya dapat diselesaikan sebelum tahun 2015, yaitu sebelum pengesahan DIPA tahun 2015 karena ini merupakan salah satu <i>readiness criteria </i>yang harus dipenuhi untuk pengalokasian anggaran, tutur Andreas.</p> <p style="text-align: justify;">Andreas menjelaskan tantangan pembangunan ekonomi tahun 2015-2016 yaitu lingkungan strategis. Dalam rapat terbatas para menteri diingatkan bahwa penyerapan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) masih terlalu rendah. Pemberdayaan masih ada proses yang harus dilalui, maka perlu terobosan, kata Andreas.</p> <p style="text-align: justify;">Menurut Andreas ada beberapa hal yang menjadi perhatian yaitu 13,3% penyerapan saat ini, masih dibawah rata-rata Kementerian PUPR yang sebesar 16,6%. Ditjen Cipta Karya mendapat tekanan untuk percepatan. Sekarang percepatan harus bisa dilakukan, dan diidentifikasi sisa untuk revisi, sehingga Pagu Ditjen Cipta Karya semua bisa terserap, yaitu sebesar 19,6 T APBN, tutur Andreas.</p> <p style="text-align: justify;">Andreas menambahkan terget kinerja Ditjen Cipta Karya pada RPJMN tahun 2015 yaitu penyediaan Air Minum dan Sanitasi untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Target 100-0-100 sesuai kesepakatan Komisi V akan diubah jadi gerakan. Ditjen Cipta Karya strateginya bergerak dalam 3 <i>layer</i> yaitu, membangun sistem, pendekatan dalam memfasilitasi pemerintah kota/provinsi, dan pemberdayaan masyarakat (level mikro). (ari)</p> &nbsp;