Dalam Rangka memperingati Hari Habitat Dunia 2016, Satker Perencanaan dan Pengendalian Program Infrastruktur Permukiman Provinsi Kepulauan Riau mengadakan Seminar Umum tentang Rumah Pesisir, Kearifan Lokal dan Tantangan Modernisasi, di Gedung PIP2B Dompak Tanjungpinang, Sabtu (8/10/2016). Seminar

<p style="text-align: justify;">Dalam Rangka memperingati Hari Habitat Dunia 2016, Satker Perencanaan dan Pengendalian Program Infrastruktur Permukiman Provinsi Kepulauan Riau mengadakan Seminar Umum tentang Rumah Pesisir, Kearifan Lokal dan Tantangan Modernisasi, di Gedung PIP2B Dompak Tanjungpinang, Sabtu (8/10/2016).</p> <p style="text-align: justify;"></p> Seminar dibuka oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepulauan Riau yang di wakili Kepala Bidang Sumber Daya Air Hendrija. <p style="text-align: justify;">Tujuan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman adalah menjamin terwujudnyarumah yang layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi,teratur,terencana, terpadu, dan berkelanjutan. Perkembangan jumlah penduduk perkotaan dewasa ini terus mengalami peningkatan dan lebih kurang dari 50% penduduk dunia hidup di perkotaan, fenomena global ini dikenal dengan urbanisasi. Urbanisasi menimbulkan salah satu dampak berupa timpangnya penyediaan perumahan dan permukiman di kawasan perkotaan.</p> <p style="text-align: justify;">Hendrija menjelaskan, peningkatan jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan penyediaan perumahan maupun sarana prasarana dasar dapat menimbulkan dampak yaitu tumbuh suburnya permukiman kumuh. Upaya penanganan kawasan kumuh diperkotaan sudah mulai dicanangkan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah belakangan ini seiring dengan target pemerintah khususnya Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui gerakan 100-0-100. Rumah pesisir pada masa lalu merupakan pola bermukim yang berkearifan lokal. Saat ini, berubah menjadi kantong kantong permukiman kumuh. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi stakeholder pembangunan permukiman di Provinsi Kepulauan Riau.</p> <p style="text-align: justify;">Melalui kegiatan seminar umum ini, kita berharapdapat memberikan masukan kontribusi positif terhadap keberlangsungan penyelenggaran perumahan dan permukiman layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, teratur, terencana, terpadu, dan berkelanjutan di Provinsi Kepuluan Riau yang berkarakter melayu Kepri, kata Hendrija.</p> <p style="text-align: justify;">Hendrija menambahkan, hal ini dapat diawali dengan upaya menggali potensi budaya melayu Kepri dalam seni bina hunian sehingga dapat menemukan jati diri kota yang berdasar pada kearifan lokal bermukim. Melalui kegiatan iniberharapmendapatkan masukkan kearifan lokal bermukim sebagai dasar dalam pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Riau, harap Hendrija.(randal kepri/ari)</p>