Direktorat Jenderal Cipta Karya, melalui Subdit. Pemantauan dan Evaluasi Direktorat Keterpaduan Infrastruktur Permukiman, melakukanFocus Group Discussion(FGD) dalam rangka Pemantauan Keterpaduan Penyelenggaraan Pembangunan Kegiatan Infrastruktur Permukiman di Kota Solo,Jumat (27/05/2016).

<p style="text-align: justify;">Direktorat Jenderal Cipta Karya, melalui Subdit. Pemantauan dan Evaluasi Direktorat Keterpaduan Infrastruktur Permukiman, melakukan<em>Focus Group Discussion</em>(FGD) dalam rangka Pemantauan Keterpaduan Penyelenggaraan Pembangunan Kegiatan Infrastruktur Permukiman di Kota Solo,Jumat (27/05/2016).</p> <p style="text-align: justify;"></p> <div id="beritanya"> <p style="text-align: justify;">FGD dipimpin oleh Kasubdit. Pemantauan dan EvaluasiDirektorat Keterpaduan Infrastruktur PermukimanJoerni Makmoerniatidan dihadiri oleh seluruh Satuan Kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Propinsi Jawa Tengah, DI. Yogyakarta dan Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman Propinsi Jawa Timur.Joerni mengatakan,FGD ini dilakukandalam rangka memverifikasi hasil dan manfaat dari pelaksanaanketerpaduan penyelenggaraan pembangunan infrastruktur permukiman.</p> <p style="text-align: justify;">Menindaklanjuti FGD, pada hari yang sama, dilakukan pula kunjungan lapangan ke Revitalisasi Kraton Kasunan dan Kraton Mangkunegaran beberapa lokasi terpilih. Selain untuk memantau pelaksanaan keterpaduan penyelenggaraan infrastruktur permukiman tahun 2016, dilakukan pula kunjungan lapangan untuk memantau manfaat dari pelaksanaan kegiatan pembangunan periode 2013-2016.</p> <p style="text-align: justify;">Kawasan Semanggi merupakan bagian dari kawasan kumuh yang termasuk dalam SK Kumuh Walikota berkategori kumuh sedang, dengan kondisi lingkungan tergenang. Kegiatan yang telah dilakukan di tahun 2016 untuk meningkatkan kualitas kawasan ini adalah pembangunan jalan lingkungan selebar 2 meter, saluran drainase lingkungan selebar 40 cm dengan panjang 359 meter. Manfaat penanganan kumuh pada kawasan ini adalah mengurangi genangan pada jalan protokol.</p> <p style="text-align: justify;">Pada kawasan Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaraan, pelaksanaan revitalisasiyangdilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sejak tahun 2013 sampai dengan saat initelah menunjukkan hasil yang cukup baik. Manfaat dari adanyarevitalisasi, terlihatpada meningkatnya jumlah pengunjung. Namun demikian, murahnya tarif masuk yang dikenakan pada pengunjung(Rp. 10.000/wisatawan domestik dan Rp. 15.000/wisatawan internasional)masih menyisakan persoalan. Pemasukan dari tarif masuk dirasa masih belum cukup memadai untuk biayapemeliharaan, sehinggakondisi keraton di beberapa<em>spot</em>nampak tidak terpelihara.Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah kota dan propinsi karena dikhawatirkan akan berdampak burukbagi keberlanjutan bangunan kraton, tutur Joerni.(wln/ari)</p> &nbsp; &nbsp; </div>