Untuk mewujudkan pencapaian sasaran strategis PUPR yang dilakukan melalui pendekatan wilayah dalam keterpaduan, pelaksanaan kegiatan bidang Cipta Karya tahun 2016 pada Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) di Sumatera Barat akan selalu dipantau, ungkap Kepala Satuan Kerja Perencanaan dan Pengendali

<p style="text-align: justify;">Untuk mewujudkan pencapaian sasaran strategis PUPR yang dilakukan melalui pendekatan wilayah dalam keterpaduan, pelaksanaan kegiatan bidang Cipta Karya tahun 2016 pada Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) di Sumatera Barat akan selalu dipantau, ungkap Kepala Satuan Kerja Perencanaan dan Pengendalian PIP Provinsi Sumatera Barat Syafriyanti saat<em>Focus Group Discussion</em>(FGD) Penyusunan Program Sinkronisasi Jangka Pendek (2018-2020) Keterpaduan Pengembangan Kawasan Dengan Infrastruktur PUPR di Sumatera Barat, Kamis (02/06/2016), di Padang.</p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;">Syafrianti mengatakan, Provinsi Sumatera Barat sendiri termasuk dalam WPS 4 (Sibolga-Padang-Bengkulu), dan terdapat beberapa kabupaten/kota yang masuk dalam program keterpaduan infrastruktur dalam mendukung sektor Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN), Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), metropolitan, pelabuhan perikanan dan pelabuhan. Pada setiap sektor tersebut program Cipta Karya akan disinergikan dengan program-program dari bidang lain, karena program Cipta Karya sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendasar.</p> <p style="text-align: justify;">Sementara itu, Kepala Bidang Penyusunan Program Pusat Pemograman dan Evaluasi Keterpaduan Infrastruktur Susilowati menambahkan, keterpaduan perencanaan dan kesinkronan program antara infrastruktur dengan pengembangan berbagai kawasan strategis dalam WPS dimaksudkan agar wilayah tersebut berkembang menjadi wilayah yang kawasan pertumbuhannya saling terhubungkan, sebagai strategi untuk meningkatkan spesialisasi, komplementaritas, sinergi dan skala ekonomi wilayah, serta membentuk kawasan polisentris sebagai aglomerasi antar kawasan pertumbuhan/kota yang bertetangga dengan pedalaman<em></em>pedesaannya.(rjp/randalsumbar/bns)</p>