Mengawali tahun 2015, Pecha Kucha Ditjen Cipta Karya kembali digelar untuk kali ke-15 dengan mengusung tema Cipta Karya dari A to Z di Ruang Pendopo Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jumat (23/1). Ajang penyaluran ide dan inovasi kreatif pegawai Ditjen Cipta Karya tersebut suda

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2015/01/pechakucha15a.jpg"></a>Mengawali tahun 2015, Pecha Kucha Ditjen Cipta Karya kembali digelar untuk kali ke-15 dengan mengusung tema Cipta Karya dari A to Z di Ruang Pendopo Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jumat (23/1). Ajang penyaluran ide dan inovasi kreatif pegawai Ditjen Cipta Karya tersebut sudah banyak menelurkan ide yang siap diimplementasikan dalam program maupun aplikasi. <div id="beritanya"> Wakil dari Setditjen Cipta Karya, Mitha, memaparkan perlunya penyelamatan aset hasil pembangunan Cipta Karya yang masih banyak belum diserahterimakan kepada Pemerintah Daerah sehingga menganggu proses operasional dan pemeliharaan. Komang Raka, perwakilan Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) membawakan cerita keberhasilan program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) pada tahun 2004. Komang mengklaim SANIMAS yang dibangun pada tahun 2014 berbeda dengan yang dibangun sebelumnya. Dengan tekonologi yang hampir sama, SANIMAS 2014 mampu memberi akses untuk 80 sambungan rumah (SR). Padahal sebelumnya hanya mampu sampai 40 SR. Warna lain ditawarkan Nurul Fauziah, perwakilan dari Direktorat Pengembangan Permukiman ini menawarkan inovasi data base kekumuhan yang dia sebut dengan Kum ON atau<em>Kumuh on Network</em>. Ide Kum ON menurutnya berbekal empat data yang menurutnya sebagian sudah dilakukan Ditjen Cipta Karya, yaitu delineasi kawasan, tingkat kekumuhan, dan kondisi lapangan, dan history kegiatan yang sudah dilakukan. Keempat data tersebut akan ditampilkan dalam aplikasi yang berbasis Geographic Information System (GIS). Dari inovasi hasil pelaksanaan, advokasi, sampai database, rupanya penyaji keempat dari Direktorat Pengembangan Air Minum, Tyas, menilai peran komunitas diperlukan dalam perwujudan kota berkelanjutan. Indikator kota layak huni menurut Tyas antara lain dilihat dari aspek ekonomi, lingkungan, infrastruktur, social, dan peran pemerintah. Faktor kelembagaan juga disorot. Kali ini Kabid Kajian Kebijakan dan Program Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM), Diana Kusumastuti, menyorot pembagian peran pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan program 100-0-100 bidang Cipta Karya. Penyaji keenam dibawakan Friska dari Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan yang memaparkan peran pengelolaa teknis dalam mewujudkan bangunan gedung yang handal. Paparan terakhir dibawakan Plt. Direktur Bina Program Antonius Budiono yang kapasitasnya pada forum itu sebagai Widyaiswara Utama. Berbeda dengan keenam penyaji sebelumnya, Antonius justru memberi masukan kepada para penyaji ke depannya dengan tips presentasi yang baik dan menarik. Ada lima tips yang menurut Antonius perlu dicoba. Pertama, ganti bullet point menjadi gambar dan kata kunci. Kedua, meringkas dan menyederhanakan teks. Ketiga, mengubah teks dengan gambar dan angka. Keempat, mengubah cara penyajian dengan lebih menarik. Kelima, posisikan gambar dengan tepat. Direktur Jenderal Cipta Karya, Imam S. Ernawi, mengapresiasi Pecha Kucha ke-15 yang diselenggarakan BPPSPAM. Meskipun dikemas dengan sederhana, namun tetap mampu menarik minat banyak pengunjung. Imam berpesan agar ide kreatif seperti penyusunan data base Kumuh on Network (Kum ON) harus dilanjutkan dan harus didukung oleh Direktorat Bangkim. (bcr) &nbsp; </div>