Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Perkerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hasil pembangunan infrastruktur permukiman. Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Karya Imam S. Ernawi pada acara Breakfast Meeting Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan G

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2015/03/breakfast-meeting-bsr.jpg"></a> <p style="text-align: justify;">Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Perkerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hasil pembangunan infrastruktur permukiman<em>.</em></p> <p style="text-align: justify;">Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Karya Imam S. Ernawi pada acara <em>Breakfast Meeting</em> Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Gedung Negara, di Pendopo Kementerian PUPR, Kamis (12/03/2015). Dalam acara <em>Breakfast Meeting</em> menampilkan dua narasumber yang merupakan akademisi dari perguruan tinggi di Indonesia yaitu Dosen Univesitas Gadjah Mada Ashar Saputra dan Guru Besar Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia Profesor Gunawan Tjahjono.</p> <p style="text-align: justify;">Acara ini untuk meningkatkan pemahaman para karyawan di lingkungan Ditjen Cipta Karya mengenai pentingnya nilai tata kelola pelaksanaan program Cipta Karya yang diwujudkan dalam formasi 1, 3, 5, dan 7, kata Imam.</p> <p style="text-align: justify;">Dalam paparannya Ashar menjelaskan mengenai bambu sebagai material alternatif bahan kontruksi dengan teknologi yang tepat. Menurut Ashar penggunaan bambu laminasi sebagai bahan bangunan bisa mengurangi kerusakan hutan akibat konsumsi kayu yang besar. Kekuatan dan keawetan yang baik, bambu bisa tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia, tidak perlu penanaman ulang setelah panen dan musuh alami sedikit adalah beberapa kelebihan tanaman bambu sebagai material bahan bangunan.</p> <p style="text-align: justify;">Bambu memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi bahan konstruksi alternatif, dan berpeluang membantu mengatasi berbagai pesoalan yaitu kerusakan hutan, penyediaan rumah tinggal dan bangunan lain, peningkatan ekonomi masyarakat dan konsevasi sumber air dan lahan kritis, ujar Ashar.</p> <p style="text-align: justify;">Sementara Gunawan Tjahjono menyampaikan, materi mengenai filosofi rajin. Rajin merupakan kata umum yang menggambarkan sifat bekerja keras. Namun rajin juga menggambarkan hasil bermutu tinggi dalam dunia para tukang dan pengrajin. Pendekatan penafsiran untuk mengungkit arti rajin dan menggali maknanya agar dapat ditanamkan sebagai nilai luhur yang perlu dilakukan segenap bangsa.</p> <p style="text-align: justify;">Gunawan mengaitkan filosofi tersebut dengan makna Cipta Karya sebagai unit kerja di Kementerian PUPR. Menurut Profesor Gunawan, penekanan rajin sebagai sifat yang melekat pada kerja perlu diangkat ulang dan dikembalikan ke makna awalnya. Hanya dengan demikian karya arsitektur mampu meningkat ke lapisan lebih berharga. Arsitektur tanpa rajin akan hampa makna dan terlepas dari daya cipta. Budaya siap saji akan menurunkan mutu karya arsitektur dari yang sedianya berupa karya seni menjadi karya kerajinan atau bahkan lebih buruk lagi, karya ala kadar.</p> <p style="text-align: justify;">Dengan demikian jiwa rajin perlu di mulai dari diri sendiri dan ditanamkan dalam pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga ke tingkat paling tinggi, kata Gunawan. (ari)</p>