Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (23/04/2015) di Kota Padang Sumatera Barat, meresmikan lima unit Tempat Evakuasi Sementara (TES) untuk korban bencana alam. TES dibangun dengan konstruksi tahan gempa dan tsunami yang dim

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2015/05/padang-bsr.jpg"></a> <p style="text-align: justify;">Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (23/04/2015) di Kota Padang Sumatera Barat, meresmikan lima unit Tempat Evakuasi Sementara (TES) untuk korban bencana alam. TES dibangun dengan konstruksi tahan gempa dan tsunami yang dimaksudkan sebagai tempat evakuasi sementara bagi masyarakat pada saat terjadi bencana tsunami sebelum dievakuasi ke Tempat Evakuasi Akhir.</p> <p style="text-align: justify;">Pada kesempatan tersebut Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Taufik Widjoyono bersama Kepala BNPB Syamsul Maarif dan Gubernur Sumatera Barat, perwakilan Gubernur Bengkulu, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat bersama-sama meresmikan lima TES, yaitu 2 unit di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Provinsi Sumatera Barat, 1 unit di Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, 1 unit Kecamatan Ilir Talo Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu, dan 1 unit di Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat.</p> <p style="text-align: justify;">Taufik menjelaskan, pada tahun anggaran 2014, Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya menyusun 28 dokumen perencanaan TES yang tersebar di 12 provinsi yang penetapan lokasinya mengacu pada Masterplan Bencana Tsunami. Dalam pelaksanaannya, Kementerian PUPR berkoordinasi dengan semua pihak di pusat dan daerah, serta para ahli di bidang konstruksi bangunan tahan gempa dan tsunami.</p> <p style="text-align: justify;">"Kami berharap Bangunan TES ini dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitarnya jika terjadi keadaan darurat bencana tsunami. Selain itu, kami harapkan juga peran serta masyarakat dan pemerintah daerah dalam memelihara, merawat, dan mengelola bangunan ini agar selalu dalam kondisi laik fungsi," pesan Taufik dalam akhir sambutannya.</p> <p style="text-align: justify;">Kepala BNPB Syamsul Maarif mengapresiasi Kementerian PUPR, serta menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. "Bencana hanya terjadi pada masyarakat yang tidak siap, kalau tidak mau terkena bencana maka masyarakat harus siap!," terang Syamsul Maarif.</p> <p style="text-align: justify;">Taufik menambahkan, TES dibangun berdasarkan kriteria struktural dan nonstruktural. Secara garis besar, bangunan TES atau shelter ini diharapkan dapat mencerminkan prioritas terhadap tapak, struktur, kapasitas, dan peka terhadap lingkungan serta aksesibilitas bagi pengguna sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.</p> <p style="text-align: justify;">Taufik kembali mengingatkan gempa di lepas pantai Sumatera pada Rabu, 30 September 2009, telah menelan korban jiwa mencapai 1.117 orang. Daerah yang terdampak paling parah ada di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.</p> <p style="text-align: justify;">Sejak peristiwa tersebut, terdapat perubahan paradigma penanggulangan bencana, dimana penanganan bencana tidak lagi menekankan pada aspek tanggap darurat saja, tetapi lebih menekankan pada keseluruhan manajemen risiko bencana.</p> <p style="text-align: justify;">"Kementerian PUPR merespon isu tersebut dengan adanya Nota Kesepahaman dengan Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengenai Penanggulangan Bencana. Sebagai bentuk dukungan tersebut, maka dibangun TES yang dimulai tahun 2013," kenang Taufik. (bhm/bcr)</p> &nbsp; &nbsp;