Dalam rangkaian acara Jelajah Kota Pusaka, Pemerintah Kota Surakarta mengadakan Seminar Kemitraan Dalam Pengelolaan Kota Pusaka, di Aula Gedung Baru Bank Indonesia, di Surakarta, Sabtu (16/05/2015). Acara seminar dimaksudkan untuk memperkenalkan Kota Pusaka melalui kemitraan antara pemerintah, ma

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2015/05/kota-pusaka-bsr.jpg"></a> <p style="text-align: justify;">Dalam rangkaian acara Jelajah Kota Pusaka, Pemerintah Kota Surakarta mengadakan Seminar Kemitraan Dalam Pengelolaan Kota Pusaka, di Aula Gedung Baru Bank Indonesia, di Surakarta, Sabtu (16/05/2015).</p> <p style="text-align: justify;">Acara seminar dimaksudkan untuk memperkenalkan Kota Pusaka melalui kemitraan antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha melalui kasus-kasus sebagaimana diterapkan oleh Kota Surakarta.</p> <p style="text-align: justify;">Adapun tujuan lain diselenggarakannya kegiatan ini yaitu untuk mengangkat pentingnya inisiatif kemitraan dalam pelestarian melalui identifikasi berbagai dasar hukum, baik pada lingkup internasional, nasional maupun lokal, serta dapat meningkatkan pengetahuan dengan berbagai pengalaman dari kota-kota lain, terutama sesama anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).</p> <p style="text-align: justify;">Seminar Kemitraan Dalam Pengelolaan Kota Pusaka ini dibuka oleh Direktur Jenderal Cipta Karya dan Perumahan Rakyat, Andreas Suhono mewakili Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dalam sambutannya Andreas mengungkapkan tentang kebijakan untuk mendorong sinergi pemerintah dan <i>stakeholder</i> dalam pelestarian pusaka.</p> <p style="text-align: justify;">"Di tahun pertama pelaksanaan program ini, sebanyak 28 kabupaten/kota menyatakan diri sebagai Kota Pusaka. Dari tahun ke tahun, Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) semakin berkembang, sampai dengan saat ini sudah 45 kabupaten/kota, dan di tahun ke-5 pelaksanaannya kabupaten/kota anggota P3KP sudah berhasil membuat rencana aksi Kota Pusaka, menyusun perencanaan penataan Kota Pusaka, bahkan ada beberapa yang sudah melakukan penataan fisik kawasan-kawasan pusaka dikotanya," kata Andreas.</p> <p style="text-align: justify;">Untuk mewujudkan Rencana Aksi Kota Pusaka tentunya dibutuhkan dukungan berbagai pihak, baik berupa pendanaan maupun partisipasi lainnya, dan seluruh komponen masyarakat, NGO, praktisi, pemerhati, pengusaha, selain Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.</p> <p style="text-align: justify;">Saat ini terdapat 200 Kota Pusaka Dunia yang telah diakui oleh UNESCO dan sebanyak 21 kota diantaranya berada di Asia. Andreas Suhono mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi <i>asset </i>pusaka bernilai tinggi, sehingga harus dapat memposisikan diri dalam jaringan Kota Pusaka Global. Dalam mewujudkan hal tersebut walikota atau bupati harus memimpin gerakan kolektif melibatkan berbagai pihak dalam upaya penataan dan pelestarian Kota Pusaka di daerah masing-masing.</p> <p style="text-align: justify;">"Semoga dengan adanya kegiatan dan kontribusi ini dapat semakin menginspirasi dan meningkatkan semangat kita semua, serta dapat merubah berbagai tantangan yang dihadapi menjadi peluang yang menjanjikan dimasa kini dan masa mendatang," kata Andreas. (randaljateng/AYS/ari)</p> &nbsp;