Indonesia saat ini menghadapi tahap baru pembangunan perkotaan sebagaimana tertuang dalam Perpres No. 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019, yang menyebutkan bahwa pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya ditujukan untuk mewujudkan peningkatan akses penduduk terhadap lingkungan permukiman berku

<a href="http://ciptakarya.pu.go.id/binaprogram/wp-content/uploads/2015/05/wwcr-eksklusif-bsr.jpg"></a> <p style="text-align: justify;">Indonesia saat ini menghadapi tahap baru pembangunan perkotaan sebagaimana tertuang dalam Perpres No. 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019, yang menyebutkan bahwa pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya ditujukan untuk mewujudkan peningkatan akses penduduk terhadap lingkungan permukiman berkualitas, peningkatan akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak menjadi 100% serta mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh di Indonesia pada tahun 2019.</p> <p style="text-align: justify;">Hal tersebut diungkapkan Direktur Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karya M. Natsir dan Direktur Pengembangan Permukiman Hadi Sucahyono mewakili Dirjen Cipta Karya saat <i>Exclusive Interview </i>dengan<i> </i>wartawan dari media Kompas dan Tempo di Jakarta, Jumat (22/05/2015).</p> <p style="text-align: justify;">"Untuk mencapai target 100-0-100 dibutuhkan dukungan pendanaan, penguatan kelembagaan, keberlanjutan penyediaan air baku, peran serta swasta dan masyarakat serta penerapan inovasi teknologi. Di samping itu, keberhasilan pencapaian target memerlukan komunikasi untuk kerjasama baik dengan mitra dalam negeri maupun luar negeri," tutur Natsir.</p> <p style="text-align: justify;">WSC merupakan kegiatan yang menjadi wadah pertemuan, pemikiran dan inovasi baru dalam pengembangan sektor air, sanitasi dan permukiman perkotaan. Tujuan Forum WSC tersebut diantaranya, menginformasikan kondisi penyediaan air, sanitasi dan permukiman perkotaan di Indonesia, target program 100-0-100 bidang air minum, sanitasi dan permukiman perkotaan, serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap permasalahan air, sanitasi dan permukiman perkotaan.</p> <p style="text-align: justify;">Sementara, Hadi menjelaskan, salah satu agenda dalam WSC adalah National Urban Forum, yaitu Forum pertemuan multi stakeholders untuk membahas isu-isu perkotaan, berbagi pengalaman tentang pendekatan pembangunan perkotaan, serta praktik-praktik terbaik bidang permukiman dan pembangunan perkotaan di Indonesia. Hasil pembahasan dalam forum tersebut diharapkan dapat memberikan masukan dalam rangka persiapan menuju konferensi Habitat III tahun 2016, yaitu <i>Forum The Hight Level Asia-Pasific Regional Meeting for Habitat</i> III dan <i>forum Asia-Pasific Urban Forum</i> ke-6 pada Oktober 2015 di Jakarta.</p> <p style="text-align: justify;">Menurut Hadi sinergi dibutuhkan antara pusat dan daerah termasuk antara pemerintah dan non pemerintah seperti lembaga donor, swasta dan masyarakat. Tentu saja keseluruhan upaya pengembangan air minum dan sanitasi harus dilihat dalam konteks pembangunan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan. "Ada banyak tantangan yang dihadapi, namun tidak mustahil untuk ditangani dan diselesaikan secara keroyokan (bersama-sama) dengan dukungan komitmen dari seluruh <i>stakeholders</i>," tutup Hadi. (ari)</p> <p style="text-align: justify;"></p> &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;