| Dep PU Fasilitasi 108 Gedung Untuk Kaum Difable |
| 16 / 11 / 2009 | ||
Sebagai
perwujudan keadilan dan persamaan kesempatan bagi kaum difable atau , sejak
2003 Departemen Pekerjaan Umum melalui Ditjen Cipta Karya telah melakukan
langkah-langkah diantaranya kegiatan percontohan fasilitas dan aksesibiltas
pada bangunan gedung Pemerintah dan pelayanan umum pada 108 bangunan gedung di
33 provinsi.
Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum (PU) Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Ismanto saat mewakili Direktur Jenderal Cipta Karya membuka Seminar Nasional Menuju Kota yang Aksesibel Bagi Semua di Jakarta, Senin (16/11).
Lebih lanjut ia mengatakan, upaya
lainnya ialah melakukan audit dan pembangunan elemen aksesibilitas di kompleks
kantor Depatemen PU sebagai pilot projectram, jalur pemandu, parkir khusus
penyandang cacat, toilet dan lift penyandang cacat sehingga menjadi contoh
bangunan yang aksesibel bagi semua. Menyadari masih minimnya bangunan gedung dengan aksesibilitas yang memadai, Ditjen Cipta Karya menilai percontohan pembangunan fasilitas aksesibilitas yang selama ini difasilitasi Pemerintah perlu diikuti oleh sektor swasta, pemilik atau pengelola gedung untuk melengkapi bangunan gedung dengan fasilitas aksesibilitas, selain syarat untuk memperoleh sertikat laik fungsi.
“Aksesibilitas merupakan salah satu unsur kemudahan
dalam persyaratan keandalan bangunan yang harus dipenuhi guna mewujudkan
kelaikan fungsinya yang ditandai dengan diterbitkannya sertifikat layak fungsi
bangunan gedung. Selama ini
pembangunan fasilitas publik belum berorientasi untuk mengakomodasi kegiatan
seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi masyarakat difabel,”
ujar Ismanto. Selain itu, upaya sosialisasi dengan mengembangkan jaringan sinergi dengan Lembaga Keagamaan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Masyarakat Pers/Wartawan, Perguruan Tinggi, dan Tokoh Masyarakat harus terus dilakukan. Hal ini bertujuan agar kaum difable lebih banyak mendapat perhatian.
Seminar
tentang difable ini bertujuan untuk mendapatkan masukan, kebijakan dan arahan
pengembangan perencanaan yang aksesibel bagi semua. Seminar tersebut diikuti
oleh perwakilan pemerintah, instansi terkait dengan pembangunan kota, lembaga
penelitian , perguruan tinggi, LSM, pengelola moda transportasi massa dan
pengembang permukiman. (dvt/rnd)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
|
||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|