Kota Padang merupakan daerah dengan potensi bencana gempa dan tsunami. Setelah gempa tahun 2009 pola tata ruang dan pembangunan menjadi berubah, peruntukan ruang yang dahulunya merupakan kawasan resapan air, sekarang menjadi kawasan pembangunan, perkantoran serta ekonomi perdagangan. Seiring dengan perubahan tersebut terdapat permasalahan yang sampai saat ini belum tertangani yaitu genangan banjir.

Hal ini disampaikan Kepala Bappeda Kota Padang Hasan Basri dihadapan Direktur Bina Program Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Antonius Budiono ketika melakukan kunjungan pada beberapa infrastruktur ke-Cipta Karya-an daerah genangan air di Kota Padang, Kamis (3/7/2014).

Antonius yang datang ke Padang dalam rangka penandatanganan CSR PT. Semen Padang bersama Kasubdit Kerjasama Luar Negeri, Dwityo A. Soeranto menyempatkan waktu untuk melakukan kunjungan lapangan. Dihadapan Kepala Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat, Soeprapto dan jajarannya, beserta para Kasatker Sektor Provinsi Sumatera Barat, Antonius menanggapi permasalahan banjir tersebut supaya diselesaikan dengan pembangunan infrastruktur sesuai dengan kewenangan dan lingkup kerja ke-Cipta Karya-an.

“Permasalahan banjir ini dapat kita atasi dengan program–program di sektor PPLP, namun hal ini juga perlu kerjasama dan integrasi dengan program yang ada di Ditjen Sumber Daya Air,” tutur Antonius.

Selain mengunjungi daerah rawan genangan, Direktur Bina Program juga melihat infrastruktur TPA Kota Padang. Antonius mengatakan penanganan sampah melalui program 3R (Reduce Reuse, Recycle,) harus diintensifkan dengan tujuan untuk mengurangi timbulan sampah. “Pola pendekatan program 3R bertujuan menyadarkan masyarakat bahwa sampah bukanlah musuh atau sesuatu yang harus disingkirkan, 3R hadir untuk mengubah pola pikir masyarakat bagaimana sampah dapat digunakan kembali dan menjadi bermanfaat,”  ujar Antonius. (rjp/randalsumbar/bns)