Upaya pencapaian target RPJMN 2015-2019 bidang Cipta Karya dinilai cukup berat. Namun Ditjen Cipta Karya optimistis dapat mencapai target yang dikenal dengan 100%-0%-100%. Karena itu perlu didorong optimalisasi perencanaan, pemrograman, penganggaran, dan pengendalian.

“Banyak yang menganggap itu target ambisius. Namun kami yakin bisa dicapai dengan perencanaan, pemrograman, dan pengendaian yang baik,” kata Direktur Bina Program, Antonius Budiono, saat membuka Rakor Tengah Tahun Satker Randal, di Denpasar (25/6).

Dijelaskan, target 100-0-100 yag mulai dikenalkan oleh Kementerian PU adalah target yang tercantum dalam rancangan RPJMN 2015-2019. Target 100% akses air minum, 0% kawasan permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi layak.

Antonius megatakan, saat ini capaian akses air minum baru mencapai 67%, akses sanitasi layak 60%, dan menyisakan 12% kawasan permukiman kumuh.

“Kita dituntut untuk meraih rata-rata capaian 6% sampai 7% per tahun bidang air minum dan sanitasi. Dibandingkan capaian 25 tahun sebelumnya yang rata-rata 3% per tahunnya, jelas ini target berat,” ujar Antonius.

Target tersebut ditambah kebijakan pemerintah untuk melakukan penghematan APBN. Kebijakan tersebut berimbas pada pemotongan anggaran Ditjen Cipta Karya sebesar Rp2,9 triliun, dari alokasi anggaran 2014 Rp17 triliun.

Karena itu Antonius mengharapkan penguatan peran Satkwr Randal untuk mengawal perencanaan, seperti Rencana Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2JM) di Kawasan Strategis Nasional (KSN), mengkoordinasikan dan mefasilitasi keterpaduan program, menggali potensi sumber pendanaan dari Corporate Social Responsibility (CSR), membangun image yang baok dengan publikasi, membantu administrasi keuangan dan pegelolaan aset Barang Milik negara (BMN), dan tugas-tugas lainnya. (Bcr)